LIBERALISASI DUNIA KEDOKTERAN

Indonesia Tanpa JIL – Ranah Minang, yang dikenal dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai”, dikejutkan dengan sebuah postingan yang menjadi viral di media sosial. Video berdurasi pendek yang diposting oleh akun Instagram @muslim.fact pada tanggal 28 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, memperlihatkan sebuah game yang disebut-sebut bertujuan edukasi namun nampaknya terlalu vulgar untuk dipraktikkan. Pada video yang setelah 22 jam dirilis sudah dilihat lebih dari 100.000 kali dan dikomentari lebih dari 1.000 kali ini tampak beberapa perempuan yang berjongkok dan ditutup matanya dengan menggunakan kain, tengah berlomba memasangkan kondom ke buah terung yang dijepitkan di pangkal paha beberapa laki-laki sehingga terkesan menyerupai alat vital laki-laki. Video ini didapatkan dari instastory salah seorang peserta, diambil di Padang dalam rangkaian acara October Meeting (OM) Center of Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA), 26-29 Oktober 2017 yang lalu.

Dalam waktu singkat, video ini memicu kehebohan luar biasa. Game yang konon bertujuan edukasi ini tidak nampak fungsi edukasinya di mata netizen yang marah melihat kevulgaran tersebut. Netizen bahkan mengutuki kegiatan CIMSA itu dan beramai-ramai melakukan mention kepada sejumlah akun Instagram sebagai bentuk pengaduan, seperti akun Walikota Padang, H. Mahyeldi, akun Gubernur Sumbar, Prof. Irwan Prayitno, hingga akun Divisi Humas Mabes Polri. Sejumlah anggota CIMSA yang tidak berada di tempat kejadian pun terkejut dan menyayangkan game yang dilakukan junior mereka itu.

Banyak yang menunggu klarifikasi dari CIMSA Lokal dan CIMSA Nasional atas permainan yang terekam dalam video tersebut. Hingga tulisan ini diturunkan, satu-satunya klarifikasi yang didapatkan adalah surat pernyataan dari CIMSA Nasional, dengan nomor surat Ref: 177/E/P/X/17 yang menyatakan bahwa kejadian tersebut berada di luar kendali dan tanggung jawab CIMSA Lokal. Tidak disinggung mengenai permintaan maaf ataupun penyesalan di dalam surat tersebut.

Hal ini tentu mengherankan. Menghadapi gelombang protes yang begitu besar dan luas, CIMSA Nasional masih bersikeras untuk tidak menyampaikan permohonan maaf. Tentu kesimpulan logis yang tersisa adalah bahwa CIMSA Nasional selaku pemilik kegiatan OM tidak merasa bahwa game yang telah mereka bawakan itu adalah sebuah kesalahan. Dengan klarifikasi yang demikian, kita dapat melihat bahwa CIMSA Nasional meyakini bahwa games tersebut tidak bermasalah dari sisi manapun.

Harusnya harus timbul pertanyaan: mengapa CIMSA Nasional menganggap edukasi penggunaan kondom dapat dilakukan dengan perantaraan sebuah game yang dinilai vulgar dalam standar norma masyarakat Indonesia, apalagi Minangkabau? Kalau harus berhipotesa untuk menjawabnya, kemungkinan karena standar nilai dan norma tersebut telah luruh pada pelaksana games tersebut. Hal ini dibuktikan dengan sikap pihak yang bersangkutan yang mengesankan tidak merasa ada pelanggaran norma dalam game tersebut. Luruhnya nilai dan norma tersebut dapat disebabkan beragam faktor, mulai dari pembinaan akhlak dan agama yang kurang, pengaruh arus budaya barat yang tidak terbendung, dan lain sebagainya. Harus diakui, ini menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan.

Sejalan dengan itu, kita juga harus mengkritisi, apakah benar cara mencegah HIV utamanya adalah dengan menggunakan kondom, sampai-sampai game yang dirancang untuk memberikan edukasi soal HIV justru berkutat pada hal itu? Dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG, dikutip dari liputan6.com tertanggal 20 September 2017, telah menegaskan bahwa yang utama adalah tidak melakukan seks bebas dan setia kepada pasangan bagi yang sudah menikah. Beliau menambahkan, AS sudah menjalankan kampanye kondomisasi ini namun toh gagal membendung laju infeksi HIV-AIDS. Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (United State Center of Diseases Control – US CDC) sendiri menyebutkan bahwa tindakan yang paling tepat dilakukan untuk mencegah penyakit yang ditularkan lewat aktivitas seksual (sexually transmitted diseases atau STD) dan HIV/AIDS adalah “to abstain from sexual activity or to be in a long-term mutually monogamous relationship with an uninfected partner.” . Artinya, tidak berhubungan seks sama sekali atau setia pada pasangan Anda! Kalau sudah begitu, mengapa perlu kondom? Pemakaian kondom secara konsisten dan benar memang dapat menurunkan risiko transmisi STD dan HIV/AIDS, namun tidak dapat menghilangkannya.

Logikanya, kalau ada tindakan yang paling tepat, mengapa harus memilih yang terbaik kedua, ketiga, dan seterusnya? Mengapa tidak jor-joran atau habis-habisan di tindakan paling tepat tadi? Siapa sponsornya?

Di sinilah kita temukan ada upaya liberalisasi di dunia kedokteran. Liberalisme memang tidak pernah adil; seolah-olah menyuarakan kebebasan, namun sejatinya mengungkung kemerdekaan. Kondom akan memiliki daya cegah pada kelompok beresiko. Siapa saja kelompok beresiko itu? Di antaranya pekerja seks, pelanggannya, pengguna NAPZA suntik, pelaku LGBT, dan lain-lain. Hari ini, pelajar dan mahasiswa mulai disasar sebagai kelompok beresiko, yang otomatis membuat pelajar dan mahasiswa Indonesia dipandang memerlukan kondom. Hal ini juga perlu kita pertanyakan, bagaimana mungkin pelajar dan mahasiswa yang terdidik dikelompokkan dalam kelompok yang sama dengan tuna susila?

Pelajar dan mahasiswa, serta segenap rakyat Indonesia, berhak diperlakukan berbeda dengan kelompok beresiko HIV. Mereka berhak mendapatkan pembinaan optimal dari pemerintah dengan tidak mengedepankan penggunaan kondom sebagai pencegahan HIV. Maka dokter dan tenaga medis tidak boleh terjerat dalam liberalisme; tidak boleh serta-merta mengedukasi masyarakat dengan kondom, seolah-olah kondom adalah solusi dari dewa. Peran promotif-preventif seorang dokter harus diupayakan dengan baik dan sesuai dengan norma yang berlaku secara umum di Indonesia; bahwa zina adalah hal yang sangat tercela. Bila dokter langsung mempromosikan kondom untuk pencegahan HIV, itu sama saja artinya bahwa dokter tidak mempermasalahkan perilaku zina masyarakat. Patut ditanyakan, bagaimana ajaran dari agama si dokter? Bagaimana hasil didikan dari institusi pendidikan si dokter?

Tidak ada satu agama pun di Indonesia yang mengajarkan ataupun membenarkan zina. Jelaslah bahwa liberalisme adalah musuh semua umat beragama, terlebih agama Islam yang sifatnya mencakup seluruh aspek kehidupan (Q.S. Al- Baqarah: 208). Seorang dokter tidak bisa memisahkan diri dari agamanya, oleh karena itu janganlah mau diliberalisasi oleh siapapun bahkan semenjak masa pendidikan.

Kejadian game vulgar yang menghebohkan ini merupakan taqdir Allah yang menyebabkan mata kita dapat terbuka dan menyadari bahwa ada bibit-bibit liberalisme yang diam-diam mulai menyusup dalam sistem pendidikan Indonesia, dalam hal ini pendidikan kedokterannya. Kalau tidak dari institusi pendidikan, ia akan mengambil jalan lain. Liberalisme akan menyusup kepada orang-orang yang lemah logika agamanya, sehingga ia akan menjadi permisif.

CIMSA Nasional diharapkan bertindak ksatria dengan mengakui kesalahannya dalam menyelenggarakan game yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Minangkabau secara khusus, kemudian meminta maaf. Tunjukkan bahwa tidak ada bibit liberalisme dalam organisasi Anda. Adapun CIMSA Lokal diharapkan dapat lebih tegas dan lebih selektif membawa semua kegiatan nasional ke wilayahnya. Sesuaikan segala sesuatunya dengan kearifan lokal, sehingga materi dan metode edukasi yang lebih baik dapat dipersembahkan untuk bangsa ini. Bangsa ini membutuhkan dokter-dokter sejati untuk menyembuhkan penyakit-penyakitnya dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka sedari pendidikannya hendaknya dimulai dengan sikap ksatria. Yakinlah, bangsa ini tidak menginginkan dokter yang jiwanya terpisah dari agamanya.

Selamat H+1 Sumpah Pemuda. Selamat Hari Stroke Sedunia.

“Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (H.R. Bukhari no 3483).

 

Padang, 29 Oktober 2017

Primananda Alfidiya Ikhsan, S. Ked.
Koordinator #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) Chapter Padang