@ITJPurwokerto Ajak Masyarakat Bentengi Diri dengan Aqidah yang Benar

Sabtu (5/12), ITJ chapter Purwokerto bekerja sama dengan KPMI Purwokerto dan PP Muhammadiyah mengadakan Kajian Ba’dha Ashar dengan tema “Membentengi Diri dan Keluarga dengan Aqidah yang Benar” bertempat di Masjid 17 Komplek SMA 1 Muhammadiyah Purwokerto yang dibawakan oleh Ust. Fahmi Salim, Lc. MA. Saat ini, perlu adanya pembentengan aqidah yang lurus, hal ini dikarenakan semakin banyaknya aliran sesat dan menyimpang yang berkembang di masyarakat akhir-akhir ini.

Meskipun diguyur hujan lebat, masyarakat purwokerto sangat antusiasme mengikuti kajian ba’dha ashar ini. Secara umum, ustadz Fahmi Salim menyampaikan urgensi pengenalan aqidah menyimpang, diantaranya ialah Syiah yang semakin merebak di masyarakat. Dengan melakukan pendekatan pengenalan kesesatan syiah dan nativisasi Islam. Hal yang pertama dibahas adalah perbedaan mendasar antara ajaran Syiah dengan ahlus sunnah wal jamaah yang berada di Indonesia. Mulai dari hal yang mendasar yakni rukun iman dan rukun Islam yang dibawa oleh Syiah jelas beda, mereka meyakininya yakni Rukun Islam seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan Al Wilayah sedangkan untuk Rukun Imannya, At Tauhid, An Nubuwah, Al Imamah, Al ‘Adlu, Al Ma’ad (Kiamat).

pwk1

Perkembangan syiah di Indonesia sudah terbentuk poros-poros kewilayahan diantaranya poros Jabodetabek, Makasar, Bandung, Semarang dan Jawa Timur. Sejarah perkembangan Syiah di Indonesia dipelopori oleh Revolusi Islam di Iran pada akhir tahun 1979 yang dibawakan oleh pidato Khomeini dengan suara lantangnya yang mempengaruhi kejiwaan pemuda-pemuda Iran. Mereka sangat bersemangat untuk menyebarkan ideology yang dibawakan oleh Khomeini sampai ke penjuru dunia sebagai bentuk syiarnya termasuk Indonesia kala itu. Dalam salah satu buku karangan Buya HAMKA, beliau bercerita tentang kunjungannya yang kemudian para pemuda Iran mendatangi ke tempat penginapan hanya untuk meminta mengembangkan ajaran Syiah ke Indonesia, dengan tegas Buya menolak dan berkata “datanglah ke Indonesia tapi hanya sebagai tamu, karena Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang merdeka termasuk merdeka dan bersih dari Syiah”.

Syiah meyakini prinsip Imamah yang menentukan keimanan dan keislaman seseorang, dan yang menjadi konsep sunnah bagi mereka adalah percaya dengan konsep maksumin pada 12 Imam Syiah. Sikap Syiah yang mengkritisi malaikat Jibril yang salah dalam penyampaian wahyu, dan banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang masih disembunyikan dan tidak mengimaninya Al-Qur’an yang ada saat ini sampai Imam Mahdi nanti turun sebagai pembawa Al-Qur’an yang disembunyikannya sebanyak lebih dari 7000 ayat dan jalur periwayatan hadits yang menggunakan perawi sendiri membuat hadits dengan versi mereka.

Penyikapan MUI terhadap aliran sesat Syiah adalah diberbagai daerah telah mengeluarkan fatwa kesesatan syiah seperti di NTB, NTT, Maluku, Bali, Jawa Timur dan Jakarta. Strategi MUI dalam menghadapi Syiah, sekarang sedang menggodok tentang fatwa kesesatan Syiah yang berupa penyesatan sahabat oleh Syiah, Kemaksuman Imam, Penolakan Khulafaur Rasyidin, dan Penolakan Al-Qur’an. (Sembodo Nugroho)