Selalu Menghantam Islam, @ITJJogja Bongkar Kedok Media Liberal

Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) Chapter Jogja kembali mengadakan kajian rutin dua pekanan. Kajian pekan ini mengambil judul “Standar Ganda Media Liberal Hantam Islam”. Kegiatan yang diadakan di Teras Dakwah pada Sabtu, 28 November kemarin ini menghadirkan pemateri Yusuf Maulana, seorang pemerhati media sekaligus redaktur Islam Pos.

Kajian ini dibuka dengan membahas tragedi Paris yang terjadi beberapa waktu lalu. Tragedi Paris yang menjadi legitimasi Perancis untuk menyerang kelompok ISIS di Suriah ternyata menyimpan sejumlah keganjilan. Beberapa keganjilan seperti adanya perempuan yang berada di tempat kejadian ternyata juga terlihat di beberapa kejadian sebelumnya seperti di tragedi Boston. Keganjilan-keganjilan ini kemudian menjadi viral di internet.

jogja1

Meski demikian, Yusuf mengatakan, bahwa aktivis dakwah khususnya harus berhati-hati menyebarkan informasi viral tersebut. Hal ini karena informasi yang belum pasti tersebut dapat menjadi jebakan yang menjadi bumerang bagi aktivis dakwah. Oleh sebab itu Yusuf menyarankan agar aktivis dakwah berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Lebih baik lagi agar aktivis dakwah tidak mengeluarkan statemen, dan kata-kata seperti “konspirasi” dan sebagainya. Melainkan cukup dengan bertanya kritis atas kejadian dan informasi yang diterima.

Permainan Media

Belakangan kerap terjadi permainan yang dilakukan media-media besar untuk mengarahkan konsumen berita kepada situasi tertentu. Media-media yang memusuhi Islam kerap membuat simulacra atau simulasi. Sebuah fakta kerap kali dibiaskan menjadi sebuah fakta baru yang kerap kali berbeda dari fakta sebenarnya. Realita semu itu kemudian dipaksakan kepada pembaca untuk menerimanya sebagai fakta. Yusuf Maulana menjelaskan, “Kerap kali musuh-musuh Islam menciptakan simulasi (simulacra). Seakan-akan fakta padahal sebetulnya bukan fakta. A tetapi diciptakan A’, A” bahkan menjadi C, D dan seterusnya.”

Permainan media semacam ini harus pahami dengan baik oleh aktivis Islam. Yusuf menambahkan, aktivis Islam harus jeli melihat sebuah berita tidak hanya dari satu sumber dan sudut pandang, melainkan mengambil sudut pandang berbeda dari media lainnya. “Aktivis Islam harus biasa melihat bagaimana kejadian yang sama diberitakan oleh media yang lain” sambung Yusuf Maulana.

Terkait dengan keadaan media mainstream hari ini, Yusuf mengakui bahwa saat ini media-media mainstream berada pada posisi tidak ideal. Sebab itu Yusuf menyarankan agar aktivis Islam lebih banyak melakukan perekaman terhadap berita-berita dari media mainstream.

Harus Adil

Yusuf Maulana mengatakan saat ini masyarakat digiringkan kepada pembagian atau klasifikasi media-media kedalam empat kelas yakni media arus utama (mainstream), media yang menuju arus utama, media Islam yang lumayan benar dan terakhir media Islam yang cukup parah, terutama dari sisi jurnalistik.

Pembagian ini kemudian memunculkan mitos-mitos bahwa media mainstream dapat selalu dipercaya dan kredibel, sedangkan yang lain diragukan. Yusuf menambahkan, bahwa mitos ini kemudian menjadikan seolah-olah hal yang tidak diberitakan oleh media utama berarti kejadian tersebut tidak terjadi. Yusuf mengambil contoh insiden Tolikara. “Apa karena belum diberitakan Kompas, maka insiden Tolikara dianggap tidak ada. Ini sangat berlebihan.” sebutnya lagi.

Salah seorang peserta kajian menanyakan bahwa dirinya menemukan banyak blunder pada media-media Islam. Hal ini menyebabkan dirinya menjadi skeptis terhadap media Islam. Menjawab hal tersebut, Yusuf Maulana mengatakan kita sudah tidak adil dalam pikiran kita. “Kita selalu husnudzon kepada orang lain. Sebaliknya kita selalu su’udzon pada teman kita.” sebut Yusuf.

Yusuf menambahkan, agar pembaca tidak hanya dari satu sumber. Kemudian menempatkan pikiran yang adil. Kekurangan pada suatu media Islam di bagian tertentu tidak harus kemudian menafikan hal-hal baik yang dapat diperoleh. Jangan karena kesalahan di bagian tertentu maka semua hal yang diberitakannya harus ditolak.

Salah seorang peserta kajian, Ivan mengatakan dalam memilah berita saat ini lebih enak. Di era media sosial saat ini, pembaca dapat mencari sumber informasi dan berita melalui media sosial. Tidak harus terpaku pada media mainstream yang bisa jadi condong terhadap pemikiran tertentu. “

Anggap kita sudah tidak percaya lagi pada sumber A, kan bisa cari sumber B, atau C. Lagipula media sosial sekarang bahkan lebih cepat menyebarkan berita ketimbang dengan media yang bentuknya korporasi (media mainstream –red). (ITJ Jogja)