‘Islam Nusantara’ Hanya Mainan Orang Liberal Saja

Bogor – Wacana ‘Islam Nusantara’ hanya lucu-lucuan orang Liberal saja. Kita tidak usah membahasnya terlalu serius. akan tetapi jangan diabaikan juga. Sesekali kita tetap harus membahasnya sebagai penyadaran kepada umat Muslim. Isu Islam Nusantara yang berkembang adalah permainan dari kaum liberalis yang berencana untuk menyingkirkan syariat Islam yang sebenarnya dengan cara berlepas diri dari apa-apa yang berbau Arab.

Salah satu buktinya adalah Tilawah dengan Langgam Jawa yang digunakan pada perayaan Isra Mi’raj di Istana Negara beberapa waktu lalu,” ungkap Akmal Sjafril di awal pemaparannya dalam acara Kajian Kontemporer #IndonesiaTanpaJIL Chapter Bogor.

“Dari segi bahasa pun kata ‘Islam’ tidak bisa disandingkan dengan kata lain, karena bisa membuat kata tersebut menjadi menyimpang atau terjadi penyempitan makna. Salah satu contohnya adalah kata ‘mobil’ yang maknanya luas, akan tetapi jika ditambah satu kata menjadi ‘mobil sedan’ maka penyempitan makna akan terjadi,” lanjut Akmal, penulis buku fenomenal Islam Liberal 101 dan aktivis ITJ, dalam uraiannya.

Selain Akmal, Yasir Amrullah yang merupakan perwakilan dari IHDI (Ikatan Harokah Dakwah Islam) juga tampil sebagai pemateri pada acara tersebut. “Sebuah kesalahan besar jika ‘Islam Nusantara’ anti dengan segala embel-embel yang berbau Arab, karena pada dasarnya Indonesia tidak bisa lepas dari Arab. Bahasa Indonesia banyak memakai serapan bahasa Arab, bahkan badan kepemerintahan tertinggi di Negeri ini namanya terambil dari bahasa arab, yaitu ‘Majelis Permusyawaratan Rakyat’ atau MPR,” ungkapnya.

Kajian yang bertemakan ‘Islam Nusantara atau Islamisasi Nusantara?’ tersebut berlangsung pada hari Ahad, 16 Agustus 2015, bertempat di Masjid Al-Ghifari, kampus Pascasarjana IPB. Kegiatan ini dihadiri oleh 70-an peserta yang terutama terdiri dari para aktivis kampus.

Tujuan diadakannya kajian ini adalah sebagai salah satu cara pencerdasan umat yang masih bingung menyikapi wacana ‘Islam Nusantara’. “Seperti yang telah dijelaskan oleh Ustadz Akmal, kita tidak usah terlalu serius menanggapinya, akan tetapi sesekali perlu juga dibahas,”ujar Irfan yang merupakan salah satu panitia dari Acara tersebut. (Dzulhij)

bgr IMG_9180 bgr IMG_9210 bgr IMG_9262