Waspadai Bahaya Jaringan Islam Liberal di Purwokerto

Purwokerto-Sabtu, (21/03) pukul 16.00 acara yang bertempat di Masjid Kampus Nurul Ulum UNSOED mengenai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang di selenggarakan oleh #IndonesiaTanpaJIL Chapter Purwokerto bekerja sama dengan UKKI Unsoed dan Takmir Masjid Kampus Nurul Ulum dengan menghadirkan Ade Chandra, Koordinator Pusat #IndonesiaTanpaJIL. 

Perlu kita ketahui JIL merupakan penggiat dari agen utama dalam penyebaran ideologi SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) di Indonesia. Sebagai jaringan maka sistem kerjanya tidak selalu transparan dengan jati diri JIL dan para aktivisnya.

“Di Indonesia sendiri, ide-ide kontroversialnya jumlahnya cukup banyak. Salah satu contoh gagasan mereka beserta bantahannya seperti ‘Kalau tidak menyembah Allah saja diperbolehkan oleh Allah, apalagi sekedar maksiat’.” Ungkap Chandra

Cara pertama orang kafir menaklukan Islam adalah dengan perang pemikiran. Ketika perang pemikiran mereka menang, mereka akan menguasai umat Islam maka tidak ada pelanggaran lainnya. Tapi ketika umat Islam ini menang dalam perang pemikiran, maka tindak berikutnya dengan cara kekerasan, seperti yang terjadi di Palestina.

“Dengan melakukan segala cara dalam pikiran orang Islam, namun jika tidak berhasil maka yang terjadi kekerasan.” Lanjut Chandra

Menurut Chandra sadar atau tidak sadar kita sudah masuk diliberalkan dari sisi pemahaman dan pemikiran kita. Seperti lewat kurikulum pendidikan yang diangkat. Contohnya pada pelajaran sejarah saat SMA, yakni sejarah manusia. Seperti yang kita tahu, kita manusia diciptakan dari alat nenek moyang kita Nabi Adam. Namun segala macam “dalil” yang ada bukan dari Adam, melainkan dari Meganthropus Erectus. Kemudian tayangan gosip dan film-film tentang cinta. Karena dengan seringnya menonton seperti akan dapat merusak pikiran kita yang secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi tindak perilaku kita. Dampaknya adalah kekerasan, misalnya saja tawuran antar pelajar di Jakarta, kemudian Free Sex, seperti Anak SMP melakukan pemerkosaan yang kemudian direkam.

Dalam sebuah dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist dijelaskan, bahwa Allah menggambarkan azab yang menimpa kaum Nabi Luth yang mempraktikkan perilaku menyimpang, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang diatas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim” (QS. Huud, 11: 82-83), “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth” (HR Nasa’I dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 (No 7337). Dari sini sudah jelas bahwa ideology SEPILIS menjauhkan kita dari perintah-perintah Allah.

Umumnya mereka mainkan peran dibelakang layar dengan mengendalikan wacana pemikiran maupun pemberitaan diberbagai media massa yang mendukung paham SEPILIS. JIL juga giat bergerak di penerbitan buku, pendidikan agama, program budaya, dsb. Isu yang disusupi guna menyebarkan paham SEPILIS antara lain terkait HAM, demokrasi, kebebasan beragama, kearifan lokal, dan kesetaraan gender.

 “Singkatnya JIL adalah apa yang diharamkan dihalalkan, dan apa yang dihalalkan diharamkan.”  Ungkap Chandra.

Solusi terbaiknya back to school, selalu memperdalam ilmu, dan belajarlah pada yang ahlinya.

Kemudian agenda tersebut diakhiri ketika adzan maghrib dikumandangkan. Acara ini cukup sukses terbukti dengan antusias peserta yang hadir dalam kajian tersebut. (Rahman)