Perang Pemikiran Bukan Hanya Diskusi, Tapi Juga Beraksi

Ahad, 22 Maret 2015, Komunitas #IndonesiaTanpaJIL Chapter Bekasi (ITJ Bekasi)  mengikuti #berASKIbersama yang diadakan oleh 11 komunitas di Bekasi lainnya. Dari mulai Berbagi Nasi Bekasi sebagai inisiator, Sedekah Harian Bekasi, Laskar Sedekah Bekasi, Manjadda wa jadaa Bekasi, Armada, Islamic Medical Service, Edcoustic Friends Bekasi, Juraganie, Indonesia Mendunia, Volkswagen Bekasi, dan Bekasi Hypnotist Community ikut memeriahkan kegiatan sosial ini.

wpid-img_20150323_064947.jpg

“Pengalaman yang luar biasa buat ITJ. Meski ini bukan kali pertama kami terlibat dalam bakti sosial, namun dengan hadir di lokasi TPA dan melihat langsung para petugas kebersihan yang bekerja, membuat kami merasa malu.” Ungkap Gatot Prasetyo, Sekjen ITJ Pusat. “Di tahun 2013, ITJ pernah menggalang dana untuk Palestina dan Suriah.” Lanjutnya.

Komunitas #IndonesiaTanpaJIL yang fokus menangani persoalan ghazwul fikri, atau perang pemikiran ini mempunyai program mengadakan kegiatan edukasi tentang bahaya pemikiran Sepilis, Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme. Selain itu, ITJ tak jarang mengikuti berbagai kegiatan sosial, baik yang diadakan sendiri, maupun bersama komunitas-komunitas lain.

wpid-img-20150322-wa0070_resized.jpg

Di Bekasi sendiri, ITJ menjadi salah satu komunitas yang aktif bergabung dengan komunitas lainnya, khususnya komunitas-komunitas Islam. ITJ Bekasi sering kali mengadakan acara di masjid dan area car free day. “Selain isu liberalisme dan lainnya, isu kemanusiaan juga menjadi perhatian kami.” Ungkap Faizal Ghozali, Anggota ITJ Bekasi.

ITJ yang telah memasuki tahun ketiga perjalanan dakwahnya, sedang mempersiapkan agenda di bulan April mendatang. Andri Rosyad, sebagai Ketua Pelaksana kegiatan tiga tahun perjalanan ITJ Bekasi, juga ikut serta dalam kegiatan #berAKSIbersama. “Luar biasa acaranya. Di situ kadang kita harus merasa bersyukur karena kita diberi nikmat lebih oleh Allah. Anak-anak ITJ Bekasi menjadi banyak bersyukur. Dan ITJ juga akan terus ikut serta dalam kegiatan sosial. Perang pemikiran buat hanya diskusi, tapi juga beraksi.” Pungkasnya. (Ajeng/ITJ)