@ITJMalang: Pelajar Islam Harus Menjaga Niat dan Aqidah

Bertempat di aula toko buku Gema Insani Press di daerah Tlogomas Malang, #IndonesiaTanpaJIL chapter Malang mengadakan kajian yang bekerja sama dengan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) pada hari selasa 20 Januari 2015. Kajian yang dimulai pada pukul 19.00 itu merupakan acara yang disiapkan oleh ITJ Malang untuk menyambut UNIDA dalam rangkaian acara Studi Pengayaan Lapang (SPL) di Malang dan Surabaya. Di Malang, selain silaturrahim ke ITJ, mahasiswa semester VI dan VII fakultas Ushuluddin UNIDA juga mengadakan diskusi dengan Tim Arimatea Malang, Vihara Budha Dhammadhipa Batu.

Kajian yang bertema “Sejarah ITJ dan Problematika Pemikiran Islam” ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama tentang sejarah ITJ disampaikan oleh Koordinator Chapter ITJ Malang, Muhammad Ibnu Pradhipta. “ITJ merupakan sebuah gerakan yang lahir dari twitter.” Ujarnya mengawali materi.

Ibnu menjelaskan bahwa tagar #IndonesiaTanpaJIL adalah sebuah gerakan perlawanan atas tagar #IndonesiaTanpaFPI yang terlebih dulu dicetuskan oleh para liberalis. Bermula dari sebuah tagar, selanjutnya ITJ menjadi gerakan dakwah anak muda yang cukup berkembang di Indonesia. ITJ menyuarakan anti sepilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) melalui media sosial seperti twitter, facebook, dan youtube. Akun @TanpaJIL bahkan hingga saat ini telah memiliki follower ratusan ribu. Selain kampanye media massa, ITJ juga kerap mengadakan acara di Car Free Day berupa sebar flyer, dan mengadakan kajian pemikiran Islam.

Materi kedua sekaligus puncak acara dibawakan oleh Akhmad Hasan Saleh, S.Pd., M.P.I, pembina ITJ Malang sekaligus peneliti ITCON (Islamic Thought and Civilization). Hasan membawakan materi dengan judul “Problematika Pemikiran Islam”. Hasan menerangkan bahwa masalah utama dari umat Islam adalah worldview. Masih banyak Umat Islam yang worldview nya meniru Barat.

“Umat Islam mengalami kemunduran karena meninggalkan agamanya” jelasnya.

Hasan menambahkan bahwa saat ini tengah terjadi perang pemikiran antara Barat dan Islam. Peradaban Barat masih ‘unggul’ karena didukung oleh tiga faktor, yaitu misionaris, kolonialis, dan orientalis.

Dalam perang pemikiran melawan Barat, tentu bukan hal yang mudah bagi umat Islam saat ini, meski juga bukan hal yang mustahil. Umat Islam terutama para pelajar Muslim harus menjaga niat dan  membentengi diri dengan aqidah yang kuat. “Jangan sampai seperti Nur Cholis Madjid. Begitu keluar dari Gontor malah menyimpang pemikirannya” (nisa/ITJ Malang).

 

pr malang