Satu Upaya Penyelamatan Negeri Oleh #IndonesiaTanpaJIL

Setelah merampungkan perkuliahan selama 3 bulan, Sekolah Pemikiran Islam #IndonesiaTanpaJIL menggelar Seminar Akbar yang diselenggarakan pada Ahad, 21 Desember 2014. Bertempat di Balai Sidang Djokosoetono, Fakultas Hukum – Universitas Indonesia, Seminar Akbar yang bertajuk “#IndonesiaTanpaJIL, Sebuah Upaya Penyelamatan Negeri” ini dibuka tepat pukul 09.30 WIB.

Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Seminar Akbar hari itu dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama, Agung Ginanjar Kusumah, panitia Seminar perwakilan dari LDK Fajrul Islam, Universitas Gunadarma selaku MC, mempersilakan moderator, Asep Rizal Muldiansyah, yang juga dari LDK Fajrul Islam. Rizal (moderator) mempersilakan Tiar Anwar Bachtiar (Ketua Pemuda PP PERSIS) terlebih dahulu membahas tentang sejarah masuknya sekularisme di Indonesia.

“Birokrasi kolonial adalah sebab munculnya sekularisme di Indonesia. Selama satu setengah abad Indonesia dipimpin oleh pemimpin kafir, sekitar tahun 1800-an, yaitu orang-orang Belanda Yahudi dan Nasrani sudah membawa sekularisme itu.” Papar Tiar Anwar Bachtiar memulai penjelasannya.

Selepas penjabaran tersebut, moderator memberi kesempatan kepada M. Achyat Ahmad, lulusan Pesantren Sidogiri, Pasuruan yang juga pengajar di sana, menjelaskan bagaimana liberalisme masuk ke pesantren. “Salah satu alasan liberalisme masuk ke pesantren adalah pergaulan santri dengan dunia di luar pesantren. Santri yang terindikasi liberal sebenarnya tidak bisa banyak mengeluarkan keliberalannya di dalam pesantren karena masih terikat dengan aturan-aturan pesantren. Umumnya ‘santri liberal’ adalah mereka yang sudah keluar dan mengekspresikannya di luar pesantren. Ungkapnya.

Setelah ishoma, sesi kedua dilanjutkan oleh pemateri yang tidak kalah menariknya. Hafidz Ary Nurhadi. MT., aktivis #IndonesiaTanpaJIL yang sangat aktif di dunia maya terutama twitter ini dipanel dengan Rita Soebagio. M.Si dari Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Hafidz menceritakan perjalanan #IndonesiaTanpaJIL sejak awal berdiri hingga saat ini. Ia mengklaim bahwa inilah yang bisa ITJ lakukan untuk Indonesia, salah satu bentuk upaya penyelamatan negeri. Tak ketinggalan, Hafidz juga memaparkan tabiat-tabiat liberalis di era internet yang tanpa batas dan tanpa sekat.

“JIL (Jaringan Islam Liberal) selalu member perkataan-perkataan yang indah. Tapi sebenarnya ngawur. Sebagai contoh, ‘Cuma Allah yang tahu kebenaran’. Kata-kata ini terkesan indah. Tapi apakah benar? Kalau ada liberalis bilang, ‘jangan urusi agama orang lain’, maka jawab saja, ‘Kamu juga jangan urusi saya.’ Liberalis itu logikanya ngga bagus. Logika mereka mudah dipatahkan karena konsep dan gagasan mereka tidak jelas.”

Sementara itu, Rita Soebagio memaparkan asal usul kesetaraan gender dan gerakan feminisme di dunia, hingga akhirnya masuk ke Indonesia. “Kesetaraan gender ini adalah bagian dari wacana feminisme yang ditawarkan Barat yang diperkenalkan oleh kaum feminis pertama kali tahun 1970-an.” Pungkasnya.

Rita juga menambahkan, “Islam tidak mengenal konsep gender karena ia bukan perbedaan jenis kelamin lelaki dan perempuan, tapi perbedaan sosial, biologi, dan psikologi. Berbahagialah ITJ yang berperang kepada liberalism dan mengangkat wacana feminisme ini, karena feminisme adalah bagian dari anak dan keturunan sekularisme dan liberalisme.

Sesi ketiga, selepas shalat Ashar, Dr. Syamsuddin Arif hadir sebagai keynote speaker sekaligus penutup materi. Dalam materinya, Islamic Studies Today: The Challange of Orientalists, Syamsuddin Arif menyampaikan asal usul studi Islam di Barat. Kritis studi Islam di perguruan tinggi adalah imbas dari apa yang terjadi di Barat, yaitu selepas perang Orientalis adalah orang-orang Barat yang mempelajari kebudayaan Bangsa Timur.

Salah satu tokoh orientalis adalah Snock Hurgronje yang dikabarkan bahwa ada sajadah di rumahnya. Lantas apakah ia langsung dikatakan Islam? “Ibnu Katsir menerangkan, jika mendengar kabar seperti itu, jangan lantas dipercaya namun jangan juga ditolak. Jangan menganggapnya serius.” Terangnya.

Sebelum seminar akbar berkahir, MC Agung membagikan beberapa doorprize kepada beberapa peserta seminar. acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Muhammad Azka. Selanjutnya, Agung, yang juga adalah salah satu alumni SPI ITJ angkatan pertama ini mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemateri seminar akbar dan juga para peserta yang hadir. Serta meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi selama acara berlangsung.. (Ajeng/ITJ)

 

seminar akbar1 seminar akbar2 seminar akbar3 seminar akbar4 seminar akbar5 seminar akbar8

seminar akbar6 seminar akbar7 seminar akbar9