Jurnalisme Islam: Jurnalis Harus Punya Sifat Shidiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah

Senin, 8 Desember 2014, Indonesia Tanpa JIL Chapter Malang kembali meramaikan panggung Islamic  Book Fair Malang. Kali ini ITJ Malang mengusung tema Jurnalisme Islam; Adab dan Etika Jurnalis dalam Mengabarkan Kebenaran sebagai bahasan kajian. Acara yang dimoderatori langsung oleh koordinator ITJ Chapter Malang, Muhammad Ibnu Pradhipta, tersebut dimulai sekitar pukul 3 sore.

Ustadz Faris, begitu panggilan akrab ketua MIUMI Malang ini, menuturkan ada empat sifat untuk menjadi jurnalis di antaranya: Shidiq (Jujur), Tabligh (menyampaikan) dimana jurnalis harus semangat dalam menyampaikan kebenaran, Amanah (dapat dipercaya), dan Fathonah (Cerdas). Ustadz Faris menambahkan. “Di antara etika dan adab dalam menyampaikan kebenaran antara lain, yang pertama harus memiliki motivasi ibadah. Dakwah bukan hanya ceramah, tapi juga bisa lewat tulisan. Dalam kondisi tertentu, penerapan kebebasan pers adalah suatu kewajiban, bukan hanya hak. Kedua, seorang junalis harus memperhatikan konsep islami tentang dasar kerja pers seperti mencari kebenaran sumber berita, obyektif dalam menjelaskan kejadian, serta mematuhi kode etik dengan tidak menerima amplop wartawan dan menghargai hak cipta. Ketiga, menjauhi larangan agama dalam penyampaian berita”.

“Menurut pandangan Barat, “bad news is good news”. Maksudnya, kabar buruk tentang apapun  merupakan kabar yang bagus unuk dijadikan berita dan banyak dinikmati oleh masyarakat. Berkebalikan dengan itu, dalam menyajikan tulisan harusnya what people need not what people want, apa yang  harusnya masyarakat butuhkan, bukan sekedar apa yang masyarakat inginkan.” Jelas mantan jurnalis majalah Sabili ini.

Ada satu pertanyaan menarik dari Faridah, mahasiswa Ilmu Komunikasi UB, dalam sesi tanya jawab. “Bagaimana sebaiknya sikap seorang jurnalis dalam menyampaikan berita ketika dihadapkan pada hegemoni pemilik modal?” Kemudian diakui oleh ustadz Faris bahwa musuh utama jurnalis yaitu pemilik modal. Seringkali ditemui beberapa media yang hanya memberitakan kabar-kabar yang lebih menguntungkan pemilik modal dan menyembunyikan berita-berita yang beresiko mengancam rusaknya reputasi pemilik modal. Menanggapi kenyataan seperti ini, sebaiknya seorang jurnalis bisa bersikap idealis tapi realistis. Tapi jangan sampai menjual idealisme.

Selain itu, ada pula yang perlu dikritisi dalam penyampaian berita oleh media yang seringkali memberitakan proses kejadian suatu tindak kriminal. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena dapat menjadi contoh bagi orang lain untuk melakukan tindakan serupa. Harusnya yang diceritakan adalah dampaknya, seperti hukuman yang diterima bagi pelaku agar menimbulkan efek jera bagi masyarakat.  Sekali lagi dalam penyampaian berita bukan proses kejadiannya yang diceritakan. “Karena kita terinspirasi dari yang sering kita lihat dan kita dengar.” demikian tutup Ustadz Faris. (Imuf/ITJ)

 

Jpeg P_20141208_160205