Nikah Beda Agama, Antara Tafsir Qur’an dan Perkembangan Jaman

Dua orang Mahasiswa mengajukan tuntutan kepada Pemerintah Indonesia untuk pengesahan pernikahan beda agama di Indonesia. Tuntutan mereka memiliki alasan yaitu pernikahan merupakan hak asasi manusia dan negara tidak berhak melarang untuk dua orang melaksanakan pernikan hanya berdasar kepada agama dan negara tidak berhak ikut campur dalam urusan agama seseorang. Inilah salah satu pemikiran liberal dan sekuler yang telah menjangkiti masyarakat Indonesia.

Atas dasar itulah, gerakan #IndonesiaTanpaJIL chapter Samarinda mengadakan kajian ilmiah dengan tema Nikah Beda Agama, Antara Tafsir Qur’an dan Perkembangan Jaman di Masjid Al Fatihah, Universitas Mulawarwan Samarinda pada hari Sabtu, 22/11. Pembicara kajian ialah Ustadz H.R. Daeng Naja., S.H., M.Hum selaku ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI Kalimantan Timur.

Dalam paparannya, Ustadz Daeng Naja memulai dengan pelarangan nikah agama di agama Kristen. Jadi, sejatinya, pernikahan beda agama terlarang di semua agama. Beliau mengatakan bahwa mengapa banyak wanita muslim menikah dengan pria non muslim karena hal itu salah satu proyek kristenisasi sesuai dengan ayat Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 120 bahwa kaum Nasrani dan Yahudi tidak akan rela sebelum umat Muslim mengikuti jalan mereka.

Pernikahan beda agama sebelumnya sudah diatur dalam UU No. 1/1974 tentang Perkawinan dan juga di dalam Kompilasi Hukum Islam. Selain itu MUI juga mengeluarkan fatwa mengenai nikah beda agama yaitu  No. 4/MUNAS/VII/MUI/8/2005. Dalam Fatwa tersebut, pernikahan beda agama adalah haram dan tidak sah. Haram disini berkaitan dengan hukum dalam Islam dan tidak sah berkaitan dengan UU no.1/1974.

Ustadz Daeng Naja juga menuturkan ketika seorang muslim baik pria atau wanita melakukan pernikahan beda agama, maka sama saja hubungan mereka merupakan perzinahan karena haram dan tidak sah secara agama dan perundang-undangan. Oleh karena itu, ketika pasangan tersebut memiliki anak, maka sang anak kehilangan hak waris dan hak wali dan kedua orang tuanya. Inilah implikasi dari pernikahan beda agama.

Pernikahan dalam Islam mengandung dua makna yaitu merupakan mitssaqan ghalidzan (perjanjian yang kuat) dan merupakan ibadah. Karena itulah pernikahan memiliki aturan yang sangat jelas karena berkaitan dengan ibadah dan agama menjadi tolak ukur utama ketika pria dan wanita memutuskan untuk menikah sebelum penilaian yang lain mengenai harta, keturuan dan fisik jasmaninya. Iman dan Islam merupakan harta yang sangat berharga bagi setiap muslim dan wajib untuk menjaganya. Jangan sampai keimanan dan keislaman tergadai hanya karena nafsu syahwat sesaat untuk dunia saja. (aspin)

 

1 25 6 7