Baru Dimulai, Sekolah Pemikiran Islam #ITJ Langsung Tancap Gas

Ibarat mobil balap, Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL langsung tancap gas sejak garis start. Program terbaru yang dikhususkan untuk para aktivis dakwah dari sejumlah kampus dan Chapter ITJ se-Jabodetabek ini memang baru resmi dimulai sejak hari Ahad, 7 September 2014, namun sudah mampu menyedot banyak perhatian sejak proses pendaftaran.

“Memang cukup banyak yang mendaftar. Meskipun undangan dibagikan secara tertutup ke sejumlah lembaga dakwah kampus, tapi peminatnya membludak,” ujar Muhammad Irfan Nail, aktivis ITJ Chapter Bekasi yang mendapatkan amanah sebagai Kepsek SPI. “Jumlah pendaftar hampir 100 orang, tapi hanya ada 75 kursi tersedia. Seleksinya cukup ketat,” ungkapnya lagi.

Seleksi calon peserta SPI dilakukan dengan pemberian tugas pembuatan karya tulis bertemakan ghazwul fikri (perang pemikiran). Karya-karya tulis yang masuk kemudian dinilai sehingga didapatkan peserta sesuai jumlah kuota.

Program SPI dimulai dengan Studium Generale yang digelar pada hari Ahad, 7 September 2014, di Aula INSISTS, Kalibata, Jakarta Selatan. Studium Generale ini menghadirkan dua orang narasumber yang sudah dikenal luas keahliannya di bidang Sirah Nabawiyah, yaitu Asep Sobari, Lc., dan Hilman Rosyad, Lc. Keduanya secara berurutan membawakan kajian bertema “As-Sabiquun Al-Awwaluun: Profil Para Pendukung Dakwah yang Paling Utama” dan “Ahlu Ash-Shuffah: Komunitas Intelektual Penerus Dakwah”.

Kedua tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. “Tema pertama kami pilih untuk mengingatkan para peserta SPI bahwa dakwah Rasulullah saw tidak dimenangkan karena keajaiban belaka, melainkan karena dukungan dari individu-individu unggul di sekitar beliau. Oleh karena itu, jika ingin memenangkan dakwah, jadilah orang-orang hebat seperti as-sabiquun al-awwaluun,” ujar Akmal Sjafril, Ketua Div. Litbang ITJ Pusat.

“Adapun bahasan tentang ahlu ash-shuffah juga penting, sebab mereka ini adalah komunitas para sahabat yang membaktikan dirinya untuk mencari ilmu, dan mereka adalah cermin untuk para peserta SPI. Selain itu, ahlu ash-shuffah banyak menerima sumbangan dari umat Muslim pada masa itu sehingga kebutuhan hidup mereka terpenuhi dan mereka bisa fokus menuntut ilmu. Peserta SPI pun harus menyadari bahwa sebagian besar biaya perkuliahan mereka di SPI dibiayai oleh donasi dari umat. Oleh karena itu, jika mereka main-main, itu artinya mereka kurang amanah dalam mengemban kepercayaan dari para donatur,” pungkas Akmal.

Dalam kajiannya, ustadz Asep menggarisbawahi beberapa karakter as-sabiquun al-awwaluun, diantaranya adalah berusia muda, intelek dan sudah mapan di usia belia. Mereka inilah yang dianggap mampu mengemban tanggung jawab dakwah yang berat. Adapun ustadz Hilman selalu mengajak peserta Studium Generale untuk meniru para ahlu ash-shuffah untuk menjadi pecinta ilmu yang sejati.

Perkuliahan SPI dimulai pada hari Kamis, 11 September 2014, dengan materi “Ghazwul Fikri” yang disampaikan oleh Wido Supraha, M.Si., peneliti muda INSISTS yang tengah menyelesaikan disertasinya di program pascasarjana bidang Pendidikan Islam, Univ. Ibn Khaldun, Bogor. Dalam kajiannya, Wido menjelaskan realita ghazwul fikri dari masa ke masa, mengidentifikasi pihak-pihak yang kerap melakukan serangan pemikiran kepada Islam, dan mengulas beberapa metode yang biasa mereka gunakan.

“Islam adalah agama yang rasional. Oleh karena itu, kita harus menjawab tantangan pemikiran ini secara rasional pula,” ujar Wido seraya mengingatkan seluruh peserta SPI bahwa ghazwul fikri ini hanya bisa dimenangkan dengan ilmu.

Meskipun baru berlangsung selama beberapa hari saja, namun para peserta SPI sudah menghasilkan sejumlah tulisan yang ‘dipajang’ di fanpage SPI (http://www.facebook.com/SPI.ITJ). “Memang perkuliahan di SPI cukup padat. Bukan hanya jadwal kuliahnya yang pekanan, tapi yang lebih intens lagi adalah tugas-tugas menulisnya itu. Setiap peserta diwajibkan menulis reportase dari studium generale dan perkuliahan yang diikutinya, dan juga membuat karya tulis ilmiah. Karena itu, kami selalu punya stok tulisan yang banyak,” ujar Nail.

Karya-karya tulis tersebut, selain dimuat di fanpage, juga dikirimkan ke media-media Islam online. “Per hari Sabtu, 13 September 2014, sudah ada enam artikel reportase dari para peserta SPI yang dimuat di beberapa media seperti Hidayatullah, Dakwatuna, Islamedia, dan Islampos. Kita berharap SPI dapat mencetak para penulis yang mampu menyuplai media dengan tulisan dan berita yang bermanfaat,” ujar Ade Candra, Koordinator Pusat ITJ.

SPI dijadwalkan akan berlangsung selama tiga bulan dengan program perkuliahan pekanan dan sejumlah Studium Generale. Peserta SPI berasal dari sejumlah lembaga dakwah kampus di sekitar Jakarta, yaitu dari LDK Salam UI, LDK Syahid UIN Jakarta, LDK Salim UNJ, LDK USBI dan LDK Fajrul Islam, Univ. Gunadarma. Selain itu, hadir juga utusan dari KAMMI UNJ, KAMMI Madani, KAMMI Al-Faruq, KAMMI LIPIA, dan ITJ Chapter Bekasi, Bogor, Depok dan Jakarta. (AS/ITJ)

1 thought on “Baru Dimulai, Sekolah Pemikiran Islam #ITJ Langsung Tancap Gas

Comments are closed.