Kenapa Harus Sekolah Pemikiran Islam?

Menyadari pentingnya mempertahankan dan mengembangkan tradisi keilmuan yang berasal dari pandangan hidup Islam yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan warisan tradisi intelektual islam, gerakan #IndonesiaTanpaJIL kembali mengambil peran untuk mewujudkan proyek besar ummat islam tersebut melalui Sekolah Pemikiran Islam (SPI). Melalui SPI, ITJ semakin menegaskan dirinya sebagai gerakan intelektual, salah satu dari 7 jati diri gerakan ITJ sebagaimana telah dikukuhkan dalam Silatnas pertama gerakan ini di Bandung pada tahun 2012 lalu.

Sekedar merunut ke belakang, sebelum SPI digulirkan, kajian-kajian rutin, seminar, bedah buku, bahkan workshop 2 hari tentang worldview of islam dan berbagai kegiatan bernuansa ilmiah marak diselenggarakan di berbagai chapter. Lalu mengapa harus ada SPI? Apakah tidak cukup dengan beragam kajian tadi? Apakah ITJ ingin mengubah orientasinya di masa yg akan datang dari sekedar gerakan masif di sosial media menjadi gerakan pemikiran/lembaga kajian? Untuk lebih mengetahui secara jelas mengenai SPI ini, silakan disimak wawancara dengan 3 (tiga) orang nara sumber; Ade Candra (Koordinator ITJ Pusat), Akmal Sjafril (Ketua Div. Litbang ITJ Pusat), serta M. Irfan Nail (Kepala SPI ITJ) berikut ini:

Redaksi (R) : Bagaimana awal mula munculnya ide ITJ ingin membuat SPI?

Akmal Sjafril (A) : Sudah cukup lama saya mengamati bahwa kajian-kajian selintas yang hanya dua jam saja tentang bahaya Islam liberal, perang pemikiran dan semacamnya itu hanya bisa meningkatkan awareness saja. Tapi untuk terjun langsung dalam perang pemikiran jelas butuh persiapan yang jauh lebih matang. Gagasan untuk membuat yang semacam SPI ini sudah lama terpikirkan, tapi mungkin dulu belum matang saja. Kebetulan beberapa bulan yang lalu teman-teman di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) meminta agar para aktivis dakwah dipersiapkan untuk ghazwul fikri ini, dan mereka minta kajian rutin. Barulah kemudian saya gaungkan kembali ide lama. Kali ini, gayung bersambut. Kemudian saya tawarkan juga kepada para aktivis dakwah dari beberapa kampus yang lain, ternyata sambutannya bagus. Jadi, ya bismillaah

R : Apakah tidak cukup dgn kajian-kajian maupun workshop yg selama ini sudah dilaksanakan?

A : Kajian-kajian cukup untuk meningkatkan awareness, dan workshop The Worldview of Islam yang sudah kami gelar sepanjang 2 hari nampaknya sudah cukup untuk menambahkan semacam ‘imunitas’ agar tidak terjerat kepada pemikiran sesat. Tapi untuk berkontribusi secara aktif dalam ghazwul fikri, masih ada beberapa hal lain yang harus dilengkapi. Selain itu, workshop memang intens, namun persiapan untuk perang pemikiran butuh waktu dan jam terbang.

R : Kapan rencana dimulainya SPI?

M. Irfan Nail (N) : Rencana dimulainya SPI adalah hari Ahad tanggal 7 September 2014, studium generale pertama sekaligus pembukaan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ITJ ini.

R : Berapa kuota peserta SPI angkatan pertama ini?

N: 75 orang.

R : Jika ada yg berminat ikut SPI, bagaimana caranya?

N : Untuk saat ini, kita sudah membatasi undangan sebanyak 16 lembaga, maka kita hanya menerima peserta dari rekomendasi lembaga-lembaga tersebut saja.

R : Tidak sembarang anggota ITJ atau Aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang bisa mengikuti SPI ini. Bisa dijelaskan kriteria/persyaratan pesertanya?

N : Peserta SPI adalah peserta yang direkomendasikan oleh lembaga yang sudah masuk daftar list kita, mereka merupakan aktivis dakwah yang memang aktif, juga lulus tahap seleksi berupa penulisan karya tulis mengenai ghazwul fikri.

R : Jika boleh tau materi-materi apa yg akan didapatkan oleh peserta SPI?

Ade Candra (C) : Materi yang akan didapatkan termasuk studium generale meliputi; Sirah Nabawiyah, Ghazwul Fikri, The Worldview of Islam, Tauhidullaah Sebagai Asas The Worldview of Islam, Konsep Diin, Konsep Wahyu dan Kenabian, Islam Liberal, Sekularisme, Nativisasi, Pluralisme Agama, Orientalisme, Konsep Gender, Konsep Manusia, Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

R : Siapa saja dan dari mana pengajar yang dilibatkan dalam SPI ini?

A : Supaya bernuansa kuliah, kami menyebutnya ‘dosen’. Dosen-dosen yang diminta berkontribusi dalam SPI ini adalah para ustadz yang ahli di bidangnya masing-masing. Sebagai contoh, dalam bahasan seputar sirah nabawiyah, kami mengundang Ustadz Asep Sobari,Lc, peneliti INSISTS yang memang spesialis dalam masalah ini.

R : Bagaimana respon para pengajar ketika mereka diminta terlibat dalam SPI ini?

A : Para ustadz tentu menyambut baik gagasan SPI ini. Itulah semangat dakwah, semakin ramai barisannya, semakin menyenangkan. Ada juga yang ingin berkontribusi tapi terkendala jadwal, namun terus mendukung dan mendoakan.

R : Apakah SPI akan dilaksanakan secara berkelanjutan? Apakah ada jenjang/tingkatannya?

A : Untuk sementara, kita hanya membuat program untuk satu semester. Sudah pasti kita berharap akan menyelenggarakan SPI lagi setelah semester ini berakhir. Kita akan fokus dulu pada satu semester ini dan mempelajari perkembangan berikutnya.

R : Dengan adanya SPI, apakah ITJ ingin mengubah orientasinya di masa yg akan datang dari sekedar gerakan masif di sosial media menjadi gerakan pemikiran/lembaga kajian?

C : ITJ tetap menjadi gerakan yang di pelopori anak muda kreatif bergerak di semua lini baik melalui sosial media (online) ataupun gerakan offline seperti kajian, seminar dan sebagainya. Karena semakin lama tantangan yang kita hadapi semakin berat maka perlu terobosan-terobosan baru yang tentunya bermanfaat bagi umat. ITJ akan terus menjadi simbol perlawanan terhadap gerakan sekularime pluralisme liberalisme yang dipelopori anak muda. (SH/ITJ)

 

1 thought on “Kenapa Harus Sekolah Pemikiran Islam?

Comments are closed.