Serius Hadapi Perang Pemikiran, #IndonesiaTanpaJIL Luncurkan Sekolah Pemikiran Islam

“Kita ini tengah berada di persimpangan jalan. Dunia Islam pada umumnya menghadapi benturan keras dari arus ideologi, pemikiran, moralitas, adat istiadat, kebudayaan, dan lain-lain. Sudah banyak pemuda kita yang karam diterpa gulungan ombak ganas dan peradaban yang kacau ini” (Dr. Abdullah Nashih Ulwan)

Fenomena seperti disampaikan Dr. Abdullah Nashih Ulwan yang beliau tulis dalam bukunya, Pesan Untuk Pemuda Muslim, lazim dikenal dengan istilah ghazwul fikri (perang pemikiran).

Istilah ghazwul fikri, sebagaimana ditulis oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, sebenarnya hanyalah ekspresi kasar dari perbedaan pemikiran. Perbedaan pemikiran memiliki spektrum yang sangat luas. Perbedaan pemikiran yang terjadi antara dua atau lebih bangsa atau peradaban disebabkan oleh perbedaan cara memandang kehidupan atau perbedaan pandangan hidup (worldview). Hal ini dipengaruhi oleh kultur, agama, kepercayaan, ras dan lain-lain. Perbedaan atau gesekan antara satu peradaban dan worldview inilah yang disebut dengan ghazwul fikri yang diskenariokan dan diteorikan Samuel P. Huntington menjadi “clash of civilization”. Perang pemikiran dalam skala besar dewasa ini terjadi antara peradaban islam dan peradaban barat atau worldview Islam dan barat.

Perang pemikiran dengan pengaruhnya yang sedemikian dahsyat sudah seharusnya menjadi perhatian utama kita sebagai umat islam sehingga mampu melakukan perlawanan terutama melalui upaya peningkatan pengetahuan muslim dalam berbagai bidang ilmu. Secara institusional, umat islam perlu terus mempertahankan dan mengembangkan tradisi keimuan yang berasal dari pandangan hidup islam yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan warisan tradisi intelektual islam.

Dalam konteks ini, sebuah ikhtiar perlawanan terhadap perang pemikiran akan digulirkan oleh gerakan #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) melalui Sekolah Pemikiran Islam (SPI). Sejak diinisiasi, gerakan ini memiliki concern terhadap bahaya penyebaran paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Berawal dari media social, kemudian berkembang dalam bentuk penyebaran flyer, kajian rutin, seminar, beda buku, bahkan workshop bagi para pegiatnya. Belum cukup dengan berbagai kegiatan tadi, tercetuslah ide pembentukan SPI yang dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa untuk terjun langsung dalam arena perang pemikiran jelas butuh persiapan yang jauh lebih matang sementara kajian-kajian dan workshop dengan durasi yang singkat hanya cukup untuk meningkatkan awareness saja. Mengenai ide awal pembentukan SPI, sebagaimana diungkapkan oleh Akmal Sjafril, Ketua Divisi Litbang ITJ, “Ide awal untuk membuat yang semacam SPI ini sudah lama terpikirkan, tapi mungkin dulu belum matang saja. Kebetulan beberapa bulan yang lalu teman-teman di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) meminta agar para aktivis dakwah dipersiapkan untuk ghazwul fikri ini, dan mereka minta kajian rutin. Barulah kemudian saya gaungkan kembali ide lama. Kali ini, gayung bersambut. Kemudian saya tawarkan juga kepada para aktivis dakwah dari beberapa kampus yang lain, ternyata sambutannya bagus. Jadi, ya bismillaah….”

Tidak main-main, peserta SPI angkatan pertama yang ditargetkan sebanyak 75 orang baik dari anggota chapter ITJ Jabodetabek dan beberapa LDK ini didesain untuk memiliki beberapa kompetensi yang cukup mumpuni. Pertama, peserta meyakini kebenaran Islam dan siap melakukan pembelaan. Kedua, memiliki kemampuan untuk belajar secara otodidak, karena wacana dalam ghazwul fikri ini selalu berkembang. Ketiga, mampu menyampaikan gagasan-gagasannya secara lisan maupun tertulis, sebab musuh-musuh Islam pun membombardir umat dengan karya-karyanya.

Kegiatan yang akan dimulai pada tanggal 7 September ini diselenggarakan dalam format sebagaimana lazimnya perkuliahan, dimana para peserta mendapatkan materi dari para dosen yang sudah dikenal memiliki kafaah (kompetensi) dalam bidang keilmuannya masing-masing. Perkuliahan berlangsung selama 12 kali pertemuan ditambah 4 kali studium generale. Menariknya, sesi studium generale tidak hanya dapat diikuti oleh para peserta SPI, melainkan juga terbuka untuk umum.

Dengan kurikulum dan proses pembelajaran yang sudah dirancang sedemikian rupa, kita patut menunggu hasil dari SPI angkatan pertama ini. Harapan untuk keberlanjutan program ini sebagaimana disampaikan pula oleh Akmal Sjafril, bahwa yang terpenting akan fokus dulu untuk pelaksanaan satu semester ini dan akan mempelajari perkembangan berikutnya. Bukan mustahil jika dinilai berhasil, format SPI ini dapat direplikasi di berbagai wilayah dan menjadi program unggulan ITJ dengan dukungan berbagai pihak demi terwujudnya generasi muda islam berintelektual tinggi yang menjadi ujung tombak kebangkitan Islam. (SH/ITJ)

BvIGYCHCEAAu7HV

1 thought on “Serius Hadapi Perang Pemikiran, #IndonesiaTanpaJIL Luncurkan Sekolah Pemikiran Islam

Comments are closed.