Kajian Umum: #MenolakLupa Buya Hamka, Sang Maestro Dakwah Indonesia

“Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam,” Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXVIII, hlm. 107

P1020699

Ahad pagi, 29 Juni 2014, bertepatan dengan awal Ramadhan 1435 H, ITJ Malang bekerjasama dengan UAKI UB mengadakan kajian umum bertema #MenolakLupa edisi “Buya Hamka”, dengan ustadz Akmal Sjafril, ST, M.Pd.I sebagai pembicara. Tema ini diangkat karena keprihatinan akan anak-anak muda muslim dan muslimah yang telah mulai melupakan ulama-ulama terdahulu, sehingga kerap kehilangan jejak dan tauladan untuk bersikap menghadapi berbagai permasalahan di masa kini dan mendatang. Tema #MenolakLupa ini sendiri direncanakan sebagai tema umum setiap kali ITJ Malang mengadakan kajian tentang para tokoh dan ulama Islam maupun sejarah perkembangan Islam di masa lalu.

Bersamaan dengan berlangsungnya kajian di Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya (MRP UB), berlangsung pula laporan live tweet dengan hashtag #BuyaHamka dan mention @ITJMalang oleh para peserta kajian. Hal ini dimaksudkan untuk meramaikan kajian dan menyebarkan informasi yang diperoleh kepada para follower yang belum berkesempatan hadir. Di antara sharing menarik dari peserta kajian adalah sebagai berikut:

Sang maestro peradaban #BuyaHamka lebih dikenal di Malaysia dan Singapura. Di tanah airnya justru terlupakan. Nyari buku2nya susah di sini @ITJMalang (@crystaluscious)

Baru tahu kalo arti Buya itu Bapak nan Lembut #BuyaHamka meski pernah dipenjara oleh Soekarno tp mau jd imam saat Soekarno wafat @ITJMalang (@Joe_Evandri)

Kalau ada yg bilang #BuyaHamka tokoh pluralis, sudah dibantah semuanya. Bahkan adanya yg bener “Bapak Anti Pluralis” :)) cc: @ITJMalang (@moniksembiring)

Seorang ulama, pendidik, mufasir Quran, sufi sejati, penulis produktif, negarawan, ketua MUI #1, menolak lupa #BuyaHamka @ITJMalang (@latifahpitii)

Naik haji umur 19 thn.berangkat sendiri.pulangnya mampir deli n nulis 1 buku. Umur 21 menikah. Hebat hebat #BuyaHamka @ITJMalang (@bundadanu)

Dari mention-mention di atas, dapat kita ketahui bahwa paparan ustadz Akmal tentang Buya Hamka sangat menarik dan berisi. Kajian yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam ini diawali dengan mengisahkan perjalanan hidup Buya sejak muda, menikah,naik haji, dipenjara, menulis Tafsir Al-Azhar, hingga beliau wafat. Setelah itu kajian dilanjutkan dengan membahas perjuangan dan pandangan-pandangan Buya Hamka mengenai Islam, makna hidup, perjuangan, akidah, akhlak, kebangsaan, dan sebagainya.

P1020677

Berbagai hikmah dapat diambil dari kajian mengenai sosok Buya Hamka. Salah satunya adalah dari kemampuan menonjol yang beliau miliki, yaitu menulis. Menulis merupakan pelajaran berharga bagi generasi muda saat ini yang merasa dirinya terpelajar namun belum pernah menelurkan satu pun karya tulis yang bermanfaat bagi umat. Selain di mimbar, Buya Hamka juga banyak berdakwah lewat tulisan-tulisan beliau. Tulisan-tulisan itulah yang sampai saat ini tetap hidup, jauh setelah wafatnya beliau. Jika kita ingin membangun peradaban ilmu, budaya literasi inilah salah satu indikatornya. Ide yang keliru dari seseorang di dalam buku tidaklah dapat dilawan hanya dengan membakar buku tersebut, namun dengan menulis buku lain untuk meluruskan ide yang keliru tersebut.

Demikianlah, belajar dari para ulama di masa lalu membawa kita memahami lebih banyak tentang sesuatu yang mungkin tidak kita temui saat ini. Mengenal para ulama di masa lalu membuat kita mampu menjadi manusia yang lebih beradab, menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai. Menempatkan para ulama pada tempat yang terpuji dan sesuai dengan kedudukan mereka sebagai pewaris para nabi. Sebaliknya, ketidaktahuan tentang masa lalu membuat kita senantiasa harus memulai dari awal apa yang sebenarnya telah dibangun oleh para ulama kita di masa lalu, sehingga kita membuang waktu terlalu banyak akibat ketidaktahuan kita itu. Wallahu a’lamu bishshawab…

 

image