Islam Bukan Agama Permukaan

Senyum tersungging diiringi salam dan jabat tangan erat dari wajah-wajah energik bercahaya menyeruak hari Ahad siang itu, 11 Mei 2014, di selasar Masjid Al-Ghifari IPB di kawasan Jl. Pajajaran, Bogor. Satu persatu peserta kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) Chapter Bogor mulai berdatangan.  Alhamdulillaah, ini sudah kali kedua ITJ Bogor mengadakan kajian rutin setelah bulan sebelumnya kajian serupa diselenggarakan di sebuah kedai. Kajian rutin bulanan ini memang dimaksudkan sebagai program unggulan oleh ITJ  Bogor sekaligus sebagai suatu bentuk langkah maju yang bertujuan membekali para pegiatnya dengan materi-materi seputar tema sekularisme, pluralisme dan liberalisme serta bahayanya bagi umat Islam di Indonesia.

Tema kajian pada bulan ini adalah “Orientalis dan Sejarah Indonesia” dengan pemateri Kang Akmal Sjafril, pengurus ITJ pusat yang juga dikenal sebagai penulis. Sekira pukul 13.20 siang, kajian dimulai dengan prolog renyah dari Kang Yordan Aulia Akbar yang bertindak sebagai moderator. Ikhwan yang belum lama ini sukses mengomandani gelaran Milad ke-2 ITJ membuka acara dengan gaya khasnya, yaitu dengan kalimat-kalimat yang dikutipnya dari buku-buku bacaannya. Setelah pembukaan, ruang dengar peserta kajian disuguhi dengan taujih rabbani berupa lima ayat terakhir dari surat Az-Zumar. Semoga Allah SWT jadikan kita di ITJ sebagai bagian dari rombongan orang-orang bertaqwa yang kelak diganjar oleh jannah-Nya di akhirat. Aamiin.

Setelah pembukaan, tibalah saatnya melahap ilmu yang disampaikan oleh Kang Akmal yang berjuang melawan suara serak karena sedang flu. Beliau membedah kebusukan orientalis dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari kisah Dharmogandul dan Serat Babad Kadhiri yang ternyata ditulis atas perintah kolonial Belanda, tiga tokoh orientalis di Indonesia paling dikenal yaitu Thomas Stamford Raffles, William Marsden dan Snouck Hugronje, berikut ungkapan-ungkapan pemikiran mereka.

Beberapa poin penting dari pemikiran kaum orientalis yang ternyata masih lestari hingga kini juga mendapat sorotan. Raffles, misalnya, beranggapan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, sesungguhnya memeluk agama Islam hanya di permukaan saja, sedangkan pondasi peradabannya dibangun oleh ajaran Hindu-Budha. Demikian juga para orientalis lain memberi kesan bahwa umat Muslim Indonesia kebanyakan beragama hanya di permukaannya saja, dan ironisnya pemikiran yang demikian justru dipertahankan hingga sekarang. Islam juga dikesankan sebagai agama yang ‘datang belakangan’, disebarkan dengan kekerasan, bahkan tidak memberikan sumbangsih kepada masyarakat Indonesia.

Sajian materi ditutup dengan penjelasan tuntas seputar sumbangsih atau warisan luhur Islam pada peradaban di Indonesia. Islam memang tidak mewariskan candi-candi megah, namun ajaran Islam sangat mengakar pada pikiran rakyat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah berkembangnya rasionalitas (menghapus pemikiran takhayul yang sebelumnya mendominasi masyarakat Indonesia), mendorong munculnya persamaan hak dalam masyarakat serta bangkitnya ghirah (kecemburuan terhadap agama) di kalangan umat. Munculnya persamaan hak adalah hal yang tidak disukai oleh pemerintah lokal yang feodal, dan ghirah adalah momok utama bagi bangsa penjajah karena dengan mudah membangkitkan semangat jihad. Pada akhirnya, pemerintah feodal banyak yang mengkhianati rakyatnya sendiri dengan bersekongkol bersama penjajah. Akibatnya, umat Muslim yang taat seringkali dipinggirkan, dan fenomena ini berlaku hingga kini.

Antusiasme peserta selama kajian patut diacungi jempol. Selain bersemangat menyimak materi yang disampaikan, mereka juga semangat untuk bertanya di sesi diskusi setelah penyampaian materi. Buktinya, tiga orang peserta  memberondong Kang Akmal dengan beberapa pertanyaan untuk mengelaborasi lebih jauh  pembahasan seputar tema orientalis dan sejarah Indonesia tersebut.

Kami ingin berbagi beberapa catatan membahagiakan dari berlangsungnya kajian bulanan ini. Pertama, perseta kajian ini sangat beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa dan pekerja. Ada yang sekedar ingin tahu apa itu ITJ banyak pula yang tertarik untuk kemudian akan ikut aktif di kegiatan-kegiatan ITJ Bogor berikutnya. Dari 28 peserta yang hadir, beberapa bahkan masih berstatus pelajar SMA. Tentu saja ini adalah angin segar bagi kepentingan regenerasi ITJ Bogor di masa yang akan datang.

Kedua, peserta kajian ternyata banyak yang berasal dari luar Bogor. Panitia mencatat, ada yang datang dari Tanjung Priuk, ada yang dari Depok, dan bahkan ada seorang ibu dengan anaknya dari Kendal, Jawa Tengah, yang sedang singgah di Jakarta namun menyempatkan diri untuk datang ke kajian ini. Dengan publikasi yang relatif singkat dan sangat terbatas, alhamdulillaah jumlah peserta yang hadir memenuhi ekspektasi panitia.

Selesai kajian, waktu menjelang Shalat Ashar digunakan untuk berkenalan secara singkat dan berbagi pengalaman diantara peserta dalam suasana cair dan penuh keriangan. Walau hanya ditemani segelas air mineral dan beberapa potong kue yang sudah disiapkan panitia, suasana begitu hangat dan menyenangkan. Usai Shalat Ashar berjamaah, usai pula rangkaian acara kajian rutin bulanan kali ini. Senyum, jabat tangan serta salam menandai kembali perpisahan sore itu dari para pemuda bercahaya. Semoga Allah SWT karuniakan selalu cahaya hidayah-Nya pada kita. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (Sabar H/ITJ)

 

bogor1_5 bogor1_2 bogor1_3 bogor1_4