ITJ Malang Menolak Liberalisme dan Hedonisme

“Jika diibaratkan matahari maka usia muda sama halnya dengan pukul 12.00 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas” (Dr. Yusuf Qardhawi)

Sepenggal kalimat yang dikutip dari buku “Yang Muda Yang Hedon” karya Akhmad Hasan Saleh ini menjadi spirit ITJ Malang untuk mengadakan kajian tentang pemuda. Kajian diadakan di panggung utama Islamic Book Fair yang berlokasi di Skodam Brawijaya Malang membawa tema “Nasib Pemuda Diantara Liberalisme dan Hedonisme” , diisi oleh Ustadz Ahmad Hasan Saleh, S. Pd., MPI., peneliti ITCON (Islamic Thought and Civilization Institute) sekaligus pembina ITJ Malang bersama dengan Bang Aditya Abdurrahman, pembina komunitas Underground Muslim Surabaya.

IMG_1816

Acara dimulai pukul 13.00 yang dimoderatori oleh Korchap ITJ Malang, Bagus Dwi Pujilaksono. “Ir. Soekarno berkata, berikan aku sepuluh orang pemuda maka akan ku guncang dunia. Lantas pemuda seperti apa yang akan mengguncang dunia itu?”, sebuah prolog yang apik dari Korchap untuk mengawali kajian. Sesi pertama diisi oleh Ustadz Akhmad Hasan Saleh, beliau menjelaskan tentang potensi sekaligus ancaman yang bisa ditimbulkan oleh pemuda. Jiwa muda, semangat yang menggebu, dan fisik yang kuat bisa digunakan untuk membangun ataupun merusak bangsa, tergantung bagaimana cara menggunakannya. Potensi pemuda inilah yang juga dibidik oleh Barat dengan aksi-aksi yang diluncurkannya. Saat ini Barat begitu gencar melancarkan aksinya untuk membuat pemuda-pemuda Muslim kehilangan identitasnya. Melalui gerakan 4 F (Food, Fun, Fashion, Free Sex), Barat mencoba merusak generasi Muslim. Melalui cara yang sangat halus, hingga tanpa disadari banyak pemuda yang terjerumus ke dalamnya. Sehingga liberalisme dan hedonisme menjadi gaya hidup pemuda yang sulit dihilangkan.

Tentu bukan pemuda seperti itu yang diharapkan menjadi penerus bangsa. Bangsa ini membutuhkan pemuda mulia yang siap berjuang yaitu mereka yang kuat, bersemangat, memiliki idealisme, dan menjadikan Islam sebagai gaya hidup. Karena sekali lagi, masa depan bangsa ini tidak diserahkan kepada orang tua, namun terletak di tangan para pemuda.

“Saya sangat bangga dengan gerakan #IndonesiaTanpaJIL yang dipelopori oleh anak muda”, kata Ustadz yang ramah dan murah senyum ini.

Setelah Ustadz Hasan merampungkan bahasannya, kajian diteruskan oleh Bang Aditya Abdurrahman. Beliau yang dulu pernah menjadi bagian punkers ini menceritakan tentang pengalamannya berdakwah kepada komunitas underground. Beliau beserta rekan-rekannya masuk ke dalam komunitas underground untuk mengajak mereka mempelajari Islam dan keluar dari komunitas tersebut.  Selain itu Bang Adit juga menjelaskan tentang alat (sources) yang dipakai Barat untuk menghancurkan Islam, yaitu melalui media massa, musik, dan pendidikan. Ketiganya memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menyerang Islam. Sayangnya, umat Islam belum memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk kembali menyerang mereka. Sehingga tugas umat Islam terutama pemuda adalah memanfaatkan potensi diri, dan memanfaatkannya di jalan dakwah.

Acara yang dihadiri oleh banyak pemuda dari berbagai macam kampus di Malang ini diakhiri pukul 15.00. “Dunia ini sedang bergerak, ikut arus atau ikut menggerakkan? Acara ini memahamkan saya untuk bergerak, menangkal serangan hedonis dan liberalis mulai dari diri sendiri dengan menguatkan ilmu. Kemudian menangkal arus jahiliyah modern dengan bergerak, berpikir dan belajar bersama. Nuhun teman-teman ITJ Malang” ujar salah seorang peserta (N/ITJ).

 IMG_20140311_142036