Camping Bareng @ITJBogor, @ITJDepok dan @ITJSukabumi

Berawal dari kerinduan teman-teman ex-panitia Silatnas 2013 untuk berkumpul kembali, tercetuslah sebuah ide untuk melakukan suatu rihlah ke suatu tempat yang jauh. Diskusi pun digelar, grup kembali riuh. Semua memberi rekomendasi akan tempat-tempat yang seru untuk dikunjungi.

Setelah mengalami diskusi berkepanjangan yang cukup alot, akhirnya kami memutuskan untuk camping di kaki gunung gede. Pertimbangannya: 1) Kami si bolang yang haus akan petualangan; 2) Lokasi tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat; 3) Pemandangan bagus; 4) Secara budget aman di dompet dan di tabungan pernikahan. Hehehe.  Niat ini disambut baik oleh troops @ITJSukabumi yang berdomisili tidak jauh dari lokasi dan siap membantu, yaitu kang inu (@icoetdeparau) dan adi (@edew_)

Namun sayang seribu sayang, setelah menetapkan tanggal keberangkatan, ternyata tidak semua teman-teman bisa mengikuti kegiatan ini dikarenakan terbentur oleh kesibukan dan amanah lainnya. Terhitung hanya 11 orang saja yang ikut melancong, yaitu Bang Topson (@roktafiansyah), Akhi Indra (@RaihanAlfatih), Akhi Dona (@donadrummer), Bang Irvan (@irvan_kings), Bang Jaka (@zaka_gold), Bang Adjie (@Hulubalang_), Chandra (@mastercapung), kang Inoe (@icoetdeparau), Gita (@jajanbalabala), Sifa (@assifanur), Teh Maya (@mat4ra), dan Kak Hikmah (@punyahikmah).

Terbayang perjalanan bersama, petualangan bersama, dan seru-seruan bersama. Kesebelasan anak bolang ini begitu semangat mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa di hari H. Mulai dari pemesanan tiket kereta PP Bogor-Sukabumi, persoalan carrier,  tenda, sleeping bag, matras, ponco, jalur tracking, perbekalan, sampai peralatan memasak dan daftar rencana masakan. Berhari-hari grup ramai membicarakan persiapan kelengkapan, membuat iri hati para saudara-saudara yang tidak bisa ikut.

 

BERANGKAAAAT!

Jengjeng. Tibalah hari yang dinanti-nanti, 28 Desember 2013, bertepatan dengan hari walimah korpus ITJ yang baru, @ariadecan. Salut kepada @assifanur yang mau tidak mau berangkat dari Subang menuju Jakarta untuk menghadiri undangan nikahnya Korpus. Berangkat dengan menggunakan baju pesta dan sepatu biduan, namun memanggul carrier karena pada sore harinya harus langsung berkumpul di stasiun Bogor untuk berangkat bersama.

Meeting point di Tato Square Bogor berubah menjadi bahan candaan. Ada yang datang dengan jaket baru, tas baru, dan sepatu baru. Ada yang mencampuradukkan antara tenda, kompor, dan sayur-sayuran dalam satu buntelan carrier seberat 15 kilo (Sinkretisme garis keras :D). Ada juga yang hanya membawa day pack ringan dan dengan seenaknya menaruh kelebihan barang-barang bawaanya di kantong keresek hitam, adaaa. Sungguh..

Menjelang keberangkatan kereta terjadi insiden kecil. Tiba-tiba Gita (@jajanbalabala) disengat oleh tawon. Dua tusukan tawon ini membuat badannya meriang dan menggigil kesakitan, namun hal itu tidak mengurangi keceriannya. Jug gejak gejuk gejak gejuk, kereta malam pun datang. Dan perjalanan terus berlanjut. Jendela menyuguhkan pemandangan yang sangat indah, sunset berpadu dengan silhuet gunung salak. Masya Allah..

Semua senang, semua riang. Ada yang berceloteh, ada yang tak berhenti mengunyah, ada yang tidur lelap, ada yang tilawah mengejar #OneDayOneJuz. Sungguh mereka ini adalah teman seperjalanan yang menyenangkan. Tak terasa dua jam berlalu, kereta sampai di sukabumi dengan selamat pada pukul 20:20.

 

PETUALANGAN PUN DIMULAI

Pertama-tama, kami menyewa sebuah angkot berwarna pink yang bersedia mengantarkan ke gerbang perkemahan. Perjalanan masih terasa penuh keceriaan. Namun mendekati lokasi, kendaraan yang kami tumpangi terpaksa dihentikan, karena sedang ada pengecoran hot mix jalan. Penumpang kecewa. Namun Allah yang Maha Penyayang, sangat tahu bagaimana menghibur hambaNya. Ia menghadirkan pemandangan langit yang luar biasa indah. Bintang gemintang bertaburan tak terhitung jumlahnya, membuat mata siapa pun yang melihatnya tak berkedip, hati takjub dan lisan berdzikir mengagumi keagungannya.

Malam semakin larut. Pekerjaan hot mix belum juga usai. Kami memutuskan untuk mencari mesjid terdekat untuk mabit. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah yang Maha Baik menunjukkan kami mesjid yang besar, terang benderang, lagi dibentangi karpet-karpet tebal dan nyaman.  Setelah menjamak maghrib dan isya, tubuh kami meminta haknya untuk diistirahatkan.

Kami pun terlelap..

 

“GUGAH! GUGAAAH! GUGAAAHH!”*

(Read: Bangun! Bangun! Banguun! Dalam bahasa sunda)

Ada suara MEGA-BESAR  yang membangunkan kami secara paksa. Kami kaget bukan main. Rasanya seperti dibentak malaikat Munkar-Nakir. Saking kagetnya, kami refleks mengubah posisi tidur menjadi duduk tegak dengan gerakan setengah melompat. Dan untuk sepersekian detik kami tidak sadar sedang berada di dunia mana karena nyawa belum terkumpul.

Oh. Ternyata itu suara khatib yang membangunkan Qiyamul Layl. Pantas saja speakernya berada tepat di samping kami. Setelah QL, lanjut tilawah, lanjut shubuh berjamaah, kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

Di sebelah kanan dan kiri sepanjang jalan setapak menuju bumi perkemahan dihiasi oleh semarak

Brugmansia suaveolens, semacam bunga-bunga kecubung hutan. Indah sekali. Perdu cantik ini sekelebat terlihat seperti lonceng-lonceng putih yang menjuntai-juntai menyambut kedatangan kami. Udara pagi yang segar dan canda tawa mengiringi langkah kami, membuat pipi kami bersemu merah dan bersemangat.

Hei. Tidak terasa kami sudah sampai di lokasi kemah. Kang inu(@icoetdeparau) dan adi (@edew_) menyambut kedatangan kami dengan wajah yang berseri-seri. Ternyata lokasi kemah tidak sejauh yang kami bayangkan. Posisi kemah kami sangat strategis. Sebelah kanan terdapat gemericik aliran sungai yang jernih, dan jauh di sebelah kiri terdapat wc umum. Sempurna.

Setelah menaruh barang-barang bawaan, para ikhwan bergotong royong mendirikan tenda, sedangkan para akhwat mempersiapkan makan siang. Kami semua terkejut sekaligus takjub karena @roktafiansyah yang selama ini dikenal dengan sosok Bang Topson yang kekar, angker, dan mantan preman itu ternyata sangat mahir memasak! Para akhwat belajar banyak dari beliau bagaimana memasak ini dan itu. Bagaikan kepala chef, Bang Topson memandu acara memasak hingga selesai. Makanan kini terhidang. Ada nasi goreng, rolade asam-manis, goreng nugget, tempe mendoan dan kerupuk udang. Kami semua makan dengan lahapnya. Di gunung, hanya ada dua jenis makanan: enak dan enak banget. 😀

Setelah kenyang, kami bersiap-siap untuk petualangan yang selanjutnya. Tracking menuju curug! Dalam bahasa sunda, curug artinya air terjun. Perjalanan lumayan jauh, ETA (estimated time arrival): dua jam dengan berjalan kaki. Pulang-pergi jadi empat jam perjalanan. Okesip. Tak lupa kami membawa perbekalan  dan kompor.

Medan tracking menuju curug lumayan menguras tenaga. Menanjak, berkelok, menurun. Menanjak, berkelok, menurun. Menanjak, berkelok, menurun. Hal ini terus berulang-ulang sampai 1.5 jam ke depan.

Ketika sudah hampir kehabisan tenaga, terdengarlah suara percikan air terjun. Girang bukan kepalang. Air memancar deras dari ketinggian hampir 50 meter. Masya Allah, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Terpaan angin yang menyatu dengan subliman air dingin memberikan kesegaran dan mengobati rasa lelah kami.

Adegan berpose dan photo-photo merupakan hal yang pantang ditinggalkan. Setelah puas bergaya, kami mencari tempat untuk menyalakan kompor dan memasak indomie goreng lengkap dengan bumbu bodo-nya (read: monosodium glutamat a.k.a vetsin) 😀

Setelah tenaga pulih dan kenyang, kami bersiap untuk pulang menuju kemah. Di perjalanan pulang, kami bernyanyi lagu-lagu cilik tahun 90-an. Yang berusia lanjut hanya bisa menertawai tanpa bisa ikut-ikutan bernyanyi karena tidak hafal lirik. Haha, ini seru sekali.

 

DARI HATI KE HATI

Ketika sampai kemah, hari sudah sore. Kami bersih-bersih dan bersiap menyambut kedatangan waktu maghrib. Para ikhwan membentangkan backdrop sebesar 6 x 11 meter sebagai alas shalat di alam terbuka. Bisakah kalian bayangkan? Hamparan rerumputan yang bergutasi, aliran sungai yang lembut, radiant kabut yang sunyi, pepohonan yang merindangi, gradasi langit yang kian gelap, sungguh membuat kami tenggelam dalam kesyahduan magrib berjamaahu. Lantunan bacaan surat Ar-Rahman mengalun merdu, membuat hati para jamaah teriris dan terisak.

Usai menjamak magrib dan isya, kami duduk melingkar, bermuhasabah kemudian dilanjutkan dengan acara sharing. Kesan-kesan dan harapan kami selama terlibat di gerakan #IndonesiaTanpaJil. Salah seorang sahabat kami berkata, janganlah kita mengatasnamakan ITJ dalam perjuangan dakwah ini, tapi atas namakanlah islam. Karena suatu saat nanti, bisa jadi ITJ akan bubar, ormas-ormas akan bubar, haroqah-haroqah akan bubar, tapi Islam tidak akan bubar. Tanpa kehadiran kita Islam akan tetap jaya, namun kita tanpa Islam akan menjadi hina.

Berbagi pengalaman seputar kisah hijrah  bang Jaka (@Zaka_gold), bang Irvan (Irvan_kings), dan Bang Topson (@Roktafiansyah) yang membuat kami speechless dan tersentuh. Tak ketinggalan dari kubu akhwat, @jajanbalabala juga bercerita sedikit tentang proses hijrahnya. Yang lain menjadi saksi akan perubahan perilaku yang drastis dalam diri seorang manusia dari yang tadinya belum mengenal islam dan sudah, ini semua tidak lain karena Shibgatullah, celupan Allah.

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?…” (Al-baqarah: 138)

Ketika Allah menghendaki kerasnya hati menjadi lembut dengan turunnya hidayah, sungguh itu adalah nikmat yang tak terbayarkan. Betapa Allah sangat menyayangi orang-orang ini, menunjukkan cahaya yang terang sesudah kegelapan. Kisah hijrah selalu memberikan pelajaran berharga bagi siapapun yang mendengarnya. Kami bercermin ke dalam diri masing-masing, dan kami optimis untuk menjadi muslim yang lebih baik, saling menesahati dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada satu tekad yang terpatri dalam masing-masing lubuk hati kami, bahwasanya sepulang dari tempat ini, kami akan semaksimal mungkin berusaha menjadi jalan hidayah bagi orang-orang yang kami sayang. Keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang terdekat. Pelajaran yang kami dapatkan dari pembicaraan dari hati-ke-hati ini adalah, bahwa dakwah adalah perpaduan antara cinta dan kesabaran. Tidak seharusnya hidayah yang datang menjadi pemutus silaturrahim dengan dunia kami yang dulu, melainkan menjadi penunjuk jalan. Kami ingin orang-orang yang kami sayangi ikut merasakan manisnya iman dan manisnya ukhuwah. Betapa indahnya, betapa indahnya..

 

OH, TIDAK.

Ada kejadian lucu. Ketika kami menyalakan api unggun, bersenda gurau dan bercengkrama, ternyata ada makhluk lain yang pengen ikut-ikutan. Mungkin dia iri melihat keindahan ukhuwah kami. Hehehe. Sebut saja namanya #Cikcik. #Cikcik adalah pelaku tawa ghaib yang suara ketawanya pindah-pindah secara random dan acak.

“Cik cik cik cik”, begitulah bunyinya.

Bikin tegang.

Beberapa ikhwan menyadari kehadiran #cikcik, namun hanya saling lirik tanpa komentar. Keesokan paginya ketika hari sudah terang, barulah ikhwan-ikhwan ini membongkar misteri tadi malam. Kejadian-kejadian itu mungkin terasa mengesalkan ketika terjadi di malam hari, namun akan menjadi lucu ketika diceritakan di sepanjang perjalanan pulang, di angkot, di kereta, di grup, maupun di timeline. Maap ya #Cikcik kalau kupingmu panas, selama dua hari ke depan kamu dibully dan jadi trending topic lhoo..

 

PERJALANAN PULANG

Sudah tiga hari dua malam kami berkemah. Artinya sudah saatnya kami pulang. Kembali ke kehidupan semula. Dengan rutinitas seperti semula.

Sarapan kali ini diprakarsai oleh Akhi Dona, bubur kacang ijo (makanan pembuka); Bang Adji yang menggagalkan acara liwetan karena kesalahan teknis; dan tidak lupa maestro Bang Topson, membuat sosis goreng bumbu terriyaki, sayur tumis, goreng nugget, dan para akhwat yang membantu menggodok mie rebus.

Setelah beres kunyah-kunyah, kami kemas-kemas untuk pulang. Dan akhirnya kami meninggalkan bumi perkemahan yang asri dan sejuk. Berjalan kaki menuruni bukit. Menaiki angkot ijo, meninggalkan kawasan gunung gede. Semakin jauh, semakin jauh.. Berat rasanya berpisah dengan tempat ini..

Satu jam perjalanan, tibalah kami di stasiun Sukabumi. Dan waduhnya, ternyata bukti-bukti pembelian tiket kereta, hilang. Terlintas pulang menggunakan bus, tapi apa daya di rombongan ini ada anak mabok. Hobinya mabok di mobil. Hehehe

Setelah diusut dan diurus, alhamdulillah database kami tersimpan, sehingga kami tidak jadi pulang menggunakan bus. Perjalanan pulang pun tak kalah serunya.. Menyusun big plan-big plan baru tentang rencana trip selanjutnya.

“Ih seru ya camping, pokoknya kita mesti bikin ITJCamping Part 2”

“Iya. Iya, sekalian aja nanti kita bikin ITJ Summit yaa”

“Boleh tuh boleh”

“Wih, kalo muncak bareng pasti seru!”

“Ke gunung ini aja, pemandangannya bagus”

“Mending ke gunung itu aja, gampang”

“Tapi kan..tapi kan”

“Eh, jadiin dulu dong rencana kita yang mau ke sana”

“Ke sini aja belom jadi”

As always, too much plan.

Tapi tak apa, semua senang, semua riang

 

PENUTUP:

Khalifah Umar bin Khattab berkata,”seseorang belum dikatakan mengenal saudaranya apabila ia belum melakukan satu diantara hal berikut: bepergian bersamanya (safar), menginap di rumahnya, atau melakukan muamalah dengannya”.

Itu memang benar. Sebuah perjalanan akan “menguliti ” seseorang.  Namun, semakin kita mengenal saudara kita, semakin kita tidak merasa kesepian, dan kita semakin merasakan manisnya ukhuwah.

We meet the people for the reason. Either they’re a blessing or a lesson. Selama tiga hari bersama, banyak pelajaran yang bisa dipetik, banyak nikmat yang patut disyukuri. Tidakkah kita cemburu ketika dipertemukan dengan orang-orang yang lebih mencintai Allah dibandingkan diri sendiri? Adalah harapan mukmin yaitu dipertemukan dengan orang-orang yang membantu kita untuk selalu mengingat Allah. Siapa yang menyangka dari mantan begajulan, mantan anak punk, mantan bandar, atau mantan jahil sekalipun ternyata adalah orang-orang yang mengingat Allah di sela-sela aktivitasnya. Ada yang tidak lepas dari mushaf, dimanapun berada tidak menghambat komitmen one day-one juz. Ada yang mengiris-ngiris sayur sambil mendengarkan murratal. Bahkan ada juga yang hanya duduk memandangi api unggun namun bibirnya tak luput dari murajaah quran.

Kami semakin percaya bahwa Allah mempertemukan kami satu sama lain adalah sebuah grand design yang sudah direncanakanNya. Kami sangat bersyukur dipertemukan satu sama lain dalam ikatan ukhuwah, ini bukan sekedar komunitas, melainkan keluarga. (@jajanbalabala)

 

 

itjcamping

 

Testimoni Peserta #ITJCamping:

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di Bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS Al Anfal : 63). Abang-abang ku, teteh-teteh ku, saya mencintai kalian karena Allah. Semoga Allah selalu menyatukan hati kita, merekatkan ukhuwah kita, membetulkan yang retak diantara kita, mendekatkan yang jauh diantara kita.. Sungguh, kalian adalah salah satu sumber inspirasi saya.. Maaf jika saya ada salah. Teruslah menginspirasi karena Allah..

Al fakir ilallah, adik kalian, Chandra Yudhangkara @mastercapung

 

Pengalaman yg ga akan bisa terlupa semenjak awal berangkat hingga pulang hanya ukhuwah yg terasa, Allah maha baik yg mempertemukan saya dgn sahabat2 sekalian,  banyak hal yg dapat saya ambil dari perjalanan 3 hari 2 malam ini, #keepistiqomah kawan2 sekalian wabil khusus buat topson @roktafinsyah @zaka_gold @edew_ dan ukhti @jajanbalabala saya banyak belajar dari cerita perjalanan hijrah kalian | uhibbukum fillah @RaihanAlfatih

 

Pertama agak kaget waktu bang topson bilang jadi ke sukabumi, karena dari obrolan sebelumnya mau ke salak aja.  Seenggaknya mesti siap2 lah sebagai tuan rumah.. Alhamdulillah ada kang inu jg yg mau gerak..Acaranya seru, ukhuwahnya dapet, sampe bisa nangis bareng..  Pokonya keren lah.. @edew_

 

“Kepada gunung dan hutan rimba aku belajar,

mengenal aku dan ke-aku-an,

belajar melangkah,

menyingkronkan mata dengan hati…

Sang Pencipta, jangan Engkau ambil dulu kemampuanku untuk menikmati dan mensyukuri segala karuniaMu..

Percayakan kepadaku, untuk kujaga karunia hingga esok dan nanti…”

Entah lah, bingung mau nulis apa!  perjalanan bersama kalian di #ITJcamp  kmarin itu sejarah indah bagi gw. depok-sukabumi diantara 2 malam dan 3 hari terasa singkat. Klo kata si anak metal yg baru tobat “saat ada bersama kalian, gw jadi merasa ngga sendiri” 😀

That’s right guys! it’s simple, this real intropeksi dan berlari.. selain taddabur alam, camping bisa menjadi sarana hati saling bertaut, mengenal karakter, melatih mental, berbagi kisah, walk together, solidarity , belajar masak dan cari jodoh *eh 😀

Bukankah sejatinya kita memang dilahirkan untuk berkelana, mendaki gunung, membelah hutan, mengarungi lautan  dan bersamudra untuk mencari tujuan hidup, lalu kembali membawa perubahan dan mengetahui keindahan sebuah anugerah Rabb semesta alam?!

Dan di atas sana, ditengah angin yang menderu-deru, diantara jurang yang berujung kelam, omong kosong kalau kau tidak bicara tentang TUHAN. Kau akan menyadari seberapa kecil dan lemahnya dirimu ditengah hamparan alam semesta.”

Berjuta cinta untuk kalian kawan-kawan,

Setelah ini tidak ada lagi AKU dan KAU, yang ada hanya KITA! #Respect

#IndonesiaTanpaJIL  @Irvan_kings

 

Bismillah,,merasa beruntung brada dilingkungan ukhuwah yg erat ini,,ditambah dng diadainnya #ITJCamp…yg tadinya belom kenal bgt,setelah ikut jd lebih dekat dan bertambah lg saudara yg slalu mengingatkan dlm kebaikan…gak ada kata2 yg lebih bagus dan baik lg utk menggambarkan merasa beruntungnya saya berada di lingkaran ukhuwah ini,alhamdulillah,,,moga di akhirat kelak kita dipertemukan oleh Allah di jannahNya,aamiin,,,karena kita bukan komunitas tetapi KELUARGA :)) *Salam Satu Jari* @PunyaHikmah

 

“Berkumpul di alam bebas sambil menikmati kabut lembah bersama-sama saudara2ku di #IndonesiaTanpaJIL itu memberikan kesan dan selalu aku rindukan, sayang waktunya hanya sebentar, tp semoga next time Allah SWT mempertemukan kami kembali di medan yg lebih dahsyat dan cuaca yg lebih menantang, Miss you All #ITJTroops @icoetdeparau

 

“Saya menyesal ikut #ITJCamp ini…” ya, petikan tadi berupa penyesalan, penyesalan yang saya dapat saat bersama kalian 3 hari 2 malam.. sama sekali tak ada yang istimewa perjalanan ini.. seperti halnya keceriaan, keriangan, bahkan sampai team work ada disini, biasa aja deh pokoknya.. ketika kita di kelilingi taburan bintang di langit semakin kita menghitung jumlahnya semakin banyak ia berkilau.. ketika kita kerja sama saling bahu membahu menyelesaikan pekerjaan, mendirikan tenda, memasak, mencari kayu bakar, mengambil air, mencuci perabotan smua di kerjakan sigap dan ikhlas, ketika kita sholat berjamaah pun biasa tak ada yg menarik, di tengah padang kita terisak mengalir bulir air mata saat bermuhasabah, bercerita tentang diri kita, proses kita menjadi lebih baik itu pun hal biasa, tak ada yg spesial sampai pada malam terakhir dan waktunya pulang… hanya saja saya sangat menyesal melakukan perjalanan bersama kalian.. menyesal, kenapa baru sekarang hal itu bisa terjadi.. dan saya tidak akan pernah mau melakukannya lagi lain kali… karena itu hanya menambah dalam rasa Ukhuwah dan kecintaan kalian karena Allah…  @Hulubalang_

 

Ada ilmu, cerita,  pengalaman, ukhuwah yang hadir dalam perjalanan #itjcamp 3 hari kemarin. #itjcamp tidak hanya melulu ttg ramai, riang, tawa, tapi juga ttg senyap dan air mata haru 🙂  (ah, kalian boleh bilang ini klishe, tp itu yg saya rasakan ehehe).  Dan perjalanan kmarin menghadirkan ruang bersyukur yg semakin besar dan dalam, tentu saja 🙂 Jadi kalau ditanya apa kesan2 setelah ikut #itjcamp? Sy cm bisa jawab : #itjcamp2 #itjcamp3 is amust!  😀 @assifanur

 

“Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya tulis disini tapi sepertinya tidak akan selesai dalam satu malam untuk menceritakan apa saja yang terjadi di #ITJCamp itu.      …Adalah suatu kehormatan juga kebanggan bisa berada ditengah-tengah kalian khususnya diacara #ITJCamp ini dimana saya bisa mengenal kalian lebih jauh lagi,mengenal perbedaan karakter masing-masing,saling Sharing mengenai hal apa saja termasuk Sharing mengenai Proses Hijrah yang membuat air mata ini tidak mampu untuk dibendung lagi.

Saya bersyukur kepada ALLAH SWT yang telah mempertemukan diri ini dengan kalian yang tanpa melihat latar belakang saya, bersama kalianlah saya banyak mendapatkan Ilmu dan hal-hal lain yang tidak bisa saya dapatkan dikomunitas saya yang bernama PUNK.

UKHUWAH ya itulah UKHUWAH….

Karena sebuah UKHUWAH air mata ini begitu mudahnya menetes karenanya…

UKHUWAH ini sungguh terlalu indah untuk diungkapkan juga terlalu manis jika dihiasi dengan kasih sayang,kejujuran dan keikhlasan…

YA ALLAH Rahmatilah dan Ridhoilah UKHUWAH kami… ZAKARIA  ( @zaka_gold )

 

Semua kata-kata ungkapan kebahagiaan mungkin sudah terwakilkan dan tersampaikan oleh saudara-saudaraku yang lain. Namun tetap menyisakan sebuah cerita yang sangat mendalam dihati, acara yang sangat biasa namun meninggalkan kesan yang sangat luar biasa. Sebuah perjalanan yang membuat hati kita saling mengikat Ukhuwah lebih kencang dan lebih indah. Rasa syukur yang terus terucap karna banyak hal baru dan ilmu baru yang saya dapatkan di sana. #ITJCamp ini harus ada lagi brooh harus! @donadrummer

 

 

Assalamualaikum,walaupun #itjcamp cm 2hari,tp itu pengalam yg sangat berkesan u/ saya,krn ini pertama kalinya saya camping bersama” sahabat dr itj,dimana kita lbh mengenal sifat satu dengan yg lainnya,melingkar bersama orang” sholeh/a berbagi cerita,luar biasa suatu pengalaman yg tak terlupakan sampai kapan pun,dan akan berlanjut cerita ke anak insyaAllah..semoga #itjcamp berkelanjutan..”Ijtama’a alaihi wa tafarroqo alaihi” berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah (HR BUKHARI MUSLIM) (@roktafiansyah)

 

Bismillahirrahmannirrahim.. Alhamdulillah..alhamdulillah akhirnya bisa ikut yg namanya #ITJCamp ini. Meski dikonsep scr dadakan (as usual.. )..persiapannya ga main2 loh, ribet iya, beli ini itu..kayak lebaran serba baru..hehehehe. Yang pasti excited, ga sabar nunggu brangkat..meski sayangnya ga smua kawans bisa ikut tapi dah kebayang perjalanan 3 hari 2 malam bakal diisi sm sesuatu yang WOW… baru..seru..dan pasti haru. Dan, benar adanya..selalu ada cerita dalam setiap langkah, selalu ada hikmah berharga dari setiap kisah. #ITJCamp bukan sekedar kegiatan hura2..tapi pembelajaran bagaimana kita mencintai alam, dihadapan ciptaanNya yang begitu luar biasa kita hanyalah mahluk kecil tanpa daya. Juga, pembelajaran dari perjalanan hijrah bbrp teman, sungguh mjd cambuk untuk terus dan terus memperbaiki diri..sebuah peringatan kasih sayang bahwa kita sedang berlomba..berlomba dlm meraih keridhoanNya. Menjemput hidayahNya dan cintaNya. Ahh..sungguh airmata ini selalu mengalir setiap kali mengingat kalian. Keharuan yang menyeruak manakala mengingat keindahan dan kuatnya ukhuwah menjadi satu ikatan yang begitu kencang. Terima kasih ya Allah yang telah menyatukan hati2 kami. Smoga senantiasa terjaga dlm manisnya iman dan persaudaraan. Tuhkan nangis lagi deh ingetnya (elap airmata). Udah ah, yg terakhir aja..utk yg blum sempat ikutan, kudu musti wajib harus di #ITJCamp2,3,4,5 dan seterus2nya ya.. Highly recommended pokoknya, “karena kita adalah KELUARGA” Full support and love for #IndonesiaTanpaJIL *WithJokesWeFight* *TetepRungseb* 🙂 (@Mat4ra)