Samarinda Bedah Islam Liberal

Pada hari Kamis hingga Jumat, 14-15 Nopember 2013 ITJ Chapter Samarinda memiliki beberapa rangkaian acara yang dimana kedua agenda ini mengundang Akmal Sjafril sebagai pembicara. Acara ini diselanggarakan oleh Universitas Mulawarma Samarinda dengan kepanitian dari PUSDIMA (Pusat Studi Islam Mahasiswa) yang bertajuk Muharram Fair yang diadakan pada 11-17 Nopember di Auditorium UNMUL. Dalam rangkaian acara tersebut, ITJ Samarinda diajak untuk bekerjasama. Berikut rincian acara yang disusun dari hari Kamis.

samarinda3

 

Kamis, 14 Nopember, Akmal Sjafril selaku narasumber dari ITJ Pusat memberikan kajian dalam kajian pekanan yang merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh PUSDIMA UNMUL, beliau menyabarkan secara singkat bahaya Islam Liberal yang diam-diam mulai menggerogoti pemikiran para pemuda Islam tanpa sadar, peserta terlihat antusias mengikuti kajian ini terbukti dari bangku-bangku yang disediakan oleh panitia terisi penuh. Dalam kajian singkat ini peserta tidak sempat mengajukan sejumlah pertanyaan, namun acara intinya adalah memberikan informasi singkat agar peserta siap untuk mengikuti acara bedah buku yang diadakan keesokkan harinya.

Jumat, 15 Nopember, pada pukul 13.30 peserta memulai registrasi untuk mengikuti acara hari ini, yaitu Bedah Buku Islam Liberal 101 di Auditorium UNMUL. Saat acara dimulai tanpa panjang lebar moderator langsung membuka acara, dan narasumber menjelaskan mengapa buku tersebut diberi judul Islam Liberal 101, 101 sendiri merupakan kode mata kuliah dasar, dan buku beliau ini merupakan buku dasar dalam membongkar pola berpikir Jaringan Islam Liberal. Berkaitan dengan itu dengan adanya buku tersebut pembaca bisa mematahkan argumen dan menghindari pola pemikiran Liberal.  Buku ini juga menjelaskan perang pemikiran yang terangkum pada bab pertama dan seharusnya sebagai umat Islam, sudah mulai memikirkan pola penyerangan balik dengan cara intelek dan elegan.

Ada 2 syarat untuk menghadapi Ghazwul Fikry (Perang Pemikiran) yang dijabarkan oleh pembicara, yaitu yang pertama tahu siapa musuh, untuk mengetahui siapa musuh yang hadapi dan harus mengenalnya terlebih dahulu, setelah mengenalnya cara kedua, setelah mengetahui siapa musuh tentu akan terungkap apa senjata yang dimilikinya. Maka dari itu diharapkan umat Islam harus semakin cerdas dan mau memperkaya diri dengan berbagai macam ilmu tentu ditempuh dengan cara syar’i. Senjata utama umat Islam hanyalah ikhitiar.

Mengingat jumlah aliran sesat di Indonesia makin meningkat dan banyak menyebar melalui internet, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dan menyebabkan terjebak dalam pola pikir yang salah. Oleh karena itu, mengenal lebih jauh agama Islam adalah wajib agar masyarakat semakin paham dengan ajaran agamanya, hingga bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana haq dan yang bathil. Tentu saja pedoman agama Islam, Al Quran adalah buku yang sangat komperhensif yang tidak perlu diragukanlagi kebenarannya, hingga jika ada yang memotong ayat, atau menyampaikan isi Al Quran itu tidak benar, oplosan dan lain sebagainya, itu adalah kebohongan belaka.

Di sesi akhir acara, peserta cukup antusias memberikan suaranya melalui rentetan pertanyaan, satu orang tidak puas hanya memberikan satu pertanyaan saja, dari 3 orang yang bertanya masing-masing mengajukan lima pertanyaan seputar pembahasan yang telah disampaikan oleh narasumber pada sore itu. Yang salah satu pertanyaannya adalah Bagaimana cara menghadapi pola pemikiran liberal? Narasumber pun memberikan jawaban, “Dalam berdakwah dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi umat. Kita harus membentuk kekuatan dari dalam maupun luar tubuh kita hingga bisa menghadapi dan mengenali mereka yang salah. Jika kita tidak belajar kita akan menjadi apatis, oleh karena itu kita harus memperdalam pengetahuan agar bisa membedakan mana Islam dan mana yang sudah terkontaminasi pemikiran liberal.”

Setelah acara bedah buku selesai, agenda selanjutnya adalah mengumpulkan data peserta yang ingin menjadi anggota ITJ Samarinda, dari 150 lembar yang sudah disebar, mereka siap ikut dalam barisan gerakan #IndonesiaTanpaJIL dan memperkaya diri dengan ilmu untuk melawan pemikiran liberal yang makin merajalela di tengah-tengah masyarakat. (ITJ/h)