Mahasiswa FKIP Universitas Riau Siap Melawan Sekularisme

Sejak pagi hari, Selasa, 5 November 2013, lebih dari seratus orang mahasiswa Universitas Riau (UR), Pekanbaru, terutama dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), telah menunggu di tanah lapang yang dijadikan lokasi bazaar dalam rangkaian kegiatan Muharram Fest 1435 H. Dalam rangkaian kegiatan ini, lembaga dakwah FKIP UR, Al-Maidan, menyelenggarakan sebuah acara spesial, yaitu seminar yang bertajuk “Sekularisme, Kita Udahan Aja!” Ternyata, tema yang diberikan cukup mengundang minat banyak mahasiswa UR.

Seminar yang digelar secara sederhana ini menghadirkan Akmal Sjafril sebagai narasumbernya. Sehari sebelumnya, Akmal telah menghadiri kajian bedah bukunya, Islam Liberal 101, di UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Pekanbaru, Riau. Dalam kajiannya kali ini, Akmal menjelaskan asal-muasal paham sekularisme di Indonesia.

“Sekularisme di Indonesia tidak muncul dengan sendirinya. Ia lahir dan berkembang di Barat, kemudian dibawa ke Indonesia. Bangsa-bangsa penjajah, terutama Belanda, adalah yang paling bertanggung jawab. Merekalah yang paling berkepentingan untuk menyuburkan sekularisme di tengah-tengah bangsa Indonesia,” ujarnya.

Keinginan bangsa-bangsa Barat untuk melakukan sekularisasi di Indonesia tidak lain karena kepentingannya sendiri sebagai bangsa-bangsa penjajah. Bagi mereka, Islam senantiasa menjadi ancaman. “Sebelum Republik Indonesia berdiri, perjuangan tidak dipimpin oleh seorang jenderal. Perjuangan gerilya dikobarkan oleh para ulama, semangatnya adalah jihad, dan seruan perlawanan bersumber dari masjid-masjid dan langgar-langgar. Umat Muslim tak perlu diajari lagi untuk berjuang membela negeri dan mengusir penjajah. Itu semua adalah jihad,” kata Ketua Divisi Litbang #IndonesiaTanpaJIL Pusat ini.

Akmal kemudian mengutip uraian Buya Hamka dari bukunya yang berjudul Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam. Dalam buku tersebut, Hamka menjelaskan bahwa Belanda membuat-buat peraturan untuk menekan pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, kemudian sekolah-sekolah dilarang untuk mengajarkan pelajaran agama dengan alasan sekolah harus ‘netral agama’. Pada saat yang bersamaan, sekolah-sekolah Kristen justru bebas berkembang dan dibiayai oleh pemerintah Kolonial Belanda itu sendiri. Dengan cara ini, umat Muslim dimurtadkan, atau minimal disekularisasi.

“Kalau umat Muslim sudah sekuler, hilang ghirah-nya, habis semangat jihad-nya. Muslim yang sekuler memang tidak murtad, tapi sudah lenyap daya perlawanannya. Itulah yang diinginkan oleh penjajah,” ungkap Akmal lagi.

Dalam perkembangannya, paham sekularisme melahirkan berbagai pemikiran baru. Salah satunya yang dikenal luas belakangan ini adalah Islam liberal. Mereka yang sudah terjangkit virus Islam liberal, menurut Akmal, akan segan membela Islam, bahkan mereka mengolok-olok orang yang membela agamanya.

“Ada anekdot yang biasa mereka katakan. Pertama, Allah itu Maha Perkasa, dan karenanya tak perlu dibela. Kedua, Nabi itu tak perlu dibela, karena beliau sudah dibela Allah. Ketiga, Islam pun tak perlu dibela, karena Islam tidak lemah. Karena itu, jika ada orang yang menghina Allah, Nabi dan agama Islam, kita tak perlu membela lagi. Beginilah logika mereka,” ujar alumnus Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (PKU-DDII) ini. “Padahal, pembelaan dilakukan bukan karena yang dibela membutuhkan pembelaan itu, melainkan karena alasan cinta. Memang benar, Allah, Nabi dan Islam tak butuh pembelaan kita, tapi kita wajib membela. Paling tidak, supaya di akhirat kelak kita punya hujjah untuk membuktikan cinta kita,” lanjutnya.

Beberapa mahasiswa menyatakan keprihatinannya karena menyaksikan sejumlah dosen yang sudah menunjukkan tanda-tanda sekuler. Salah satunya, misalnya, adalah dosen yang menganggap bahwa agama tak perlu dibawa-bawa dalam pembahasan ilmu yang tengah dipelajari. Padahal, dalam Islam, tidak ada dikotomi antara ilmu-ilmu agama dengan sains.

Sebagian mahasiswa lain juga menunjukkan perhatiannya yang besar pada metode mendidik yang baik, karena para mahasiswa di FKIP UR pada dasarnya adalah calon pendidik. Pendidikan ilmu apa pun semestinya bisa ‘diwarnai’ dengan Islam. “Pendidikan yang Islami tidak selalu dengan menyampaikan dalil-dalil al-Qur’an atau as-Sunnah. Bisa dengan mengajarkan akhlaq yang baik, meskipun pelajarannya adalah Fisika atau Matematika. Pembawaan guru pun akan mendapat perhatian dari para siswa. Jika gurunya ber-akhlaq baik, maka siswa akan mencontohnya. Itu pun sudah bagian dari syi’ar Islam,” ungkap Akmal.

Meski digelar dalam kondisi cuaca yang sangat panas, namun para peserta kajian nampak sangat serius dalam mengikutinya. Sebagian peserta mengatakan bahwa kajian ini menarik, selain karena topik bahasannya yang sangat aktual, juga karena beberapa waktu sebelumnya #IndonesiaTanpaJIL Chapter Pekanbaru telah menggelar Workshop Islamic Worldview di kampus yang sama, dan para peserta workshop tersebut telah menceritakan banyak manfaat yang mereka dapatkan darinya. (ITJ/as)