UIN Suska Riau : Menolak Ulil, Menerima ITJ

Setelah sebelumnya diberitakan bahwa Ulil Abshar Abdalla gagal menyampaikan ceramah dalam sebuah seminar di UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Pekanbaru, Riau, kini di kampus dan lokasi yang sama justru bergema takbir dan teriakan “Indonesia tanpa JIL!”. Semua itu terjadi pada hari Senin, 4 November 2013, dalam sebuah kajian yang diselenggarakan atas kerja sama antara Forum Kajian Islam Intensif (FKII) Asy-Syams UIN Suska dengan #IndonesiaTanpaJIL Chapter Pekanbaru.
Kajian bedah buku Islam Liberal 101 ini menghadirkan sang penulis buku, Akmal Sjafril. Sebelumnya, pada pertengahan Oktober, Akmal juga singgah di Pekanbaru selama beberapa hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan #IndonesiaTanpaJIL Chapter Pekanbaru, antara lain Workshop Islamic Worldview.
Kunjungan Akmal kali ini terasa sangat spesial, sebab tidak berselang lama dari ‘insiden penolakan’ Ulil Abshar Abdalla dari kampus UIN Suska. Melalui akun Twitter-nya, Ulil mengaku mendapat ancaman dari beberapa pihak yang tidak menyukai kedatangannya. Karena situasi dianggap tidak kondusif, maka Ulil tidak jadi menyampaikan ceramahnya. Meski demikian, isu ancaman ini dibantah oleh Priandoko, Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Chapter Pekanbaru.
“Tidak ada ancaman. Malah panitia sehari sebelumnya menyatakan bahwa Ulil tidak jadi datang justru karena ditolak oleh pihak kampus UIN Suska sendiri, tapi ternyata tetap datang juga. ITJ bahkan tidak melakukan aksi untuk menolak Ulil. Kami hanya bagi-bagi flyer di luar lokasi acara. Entah bagaimana, tiba-tiba Ulil mengatakan ada ancaman,” ungkap Priandoko.
Bayu, Koordinator Bidang Syiar di FKII Asy-Syams, mensinyalir ada pelintiran lain dalam tweet-tweet Ulil. Dalam salah satu tweet, misalnya, Ulil mengatakan bahwa pengunjung yang hadir untuk mendengarkan ceramahnya sangat banyak, bahkan disebutkan angka 1.400 orang. “Kenyataannya, peserta cuma sekitar 100 orang, dan mereka pun kebanyakan datang bukan karena Ulil, tapi karena para pembicara lainnya. Rata-rata tidak kenal Ulil,” ungkapnya.
Hal yang kontras justru terjadi pada acara bedah buku Islam Liberal 101 pada 4 November silam. Meski informasi acara hanya disebar melalui SMS dan Facebook, namun jumlah peserta diperkirakan menembus angka 150 orang. Ketika Akmal turun dari taksi yang mengantarnya dan memasuki aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), lokasi yang sama yang sedianya akan dijadikan tempat Ulil berceramah tempo hari, takbir menggema dari barisan peserta.
Fenomena perlawanan terhadap Islam liberal di kampus-kampus UIN kini menjadi sorotan. Akmal sendiri sudah menyambangi kampus UIN di tuga kota yang berbeda, yaitu Makassar, Jakarta dan Pekanbaru. Akmal menengarai adanya rekayasa dari pihak kampus untuk memaksakan paham Islam liberal kepada mahasiswa-mahasiswa IAIN/UIN, meskipun mayoritasnya menolak.
“Di kampus-kampus UIN yang saya kunjungi, trennya selalu sama. Banyak mahasiswa yang menolak Islam liberal, namun dosennya memaksakan. Tentu mahasiswa berada dalam posisi terjepit. Ini sangat mengenaskan, apalagi Islam liberal dan para tokohnya selalu mengaku menjunjung tinggi kebebasan intelektual. Kalau mahasiswa diperbolehkan memilih, apa iya mereka akan memilih Islam liberal?” kata Akmal, separuh menantang.
Kajian bedah buku berakhir pada saat adzan Maghrib berkumandang. Menutup acara, Akmal memimpin para peserta untuk meneriakkan slogan “Indonesia tanpa JIL!” sambil mengacungkan satu jari sebagai simbol tauhid. Setelah itu, pekik takbir kembali bergema.
“Insya Allah, kita mampu menghapus Islam liberal dari UIN Suska, bahkan dari Indonesia,” ujarnya dengan penuh keyakinan. (ITJ/ds)
Sumber: Islamedia