Mahasiswa UIN Mendebat Dosennya Sendiri

Kajian Bedah Buku Islam Liberal 101 yang digelar di Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Pekanbaru, Riau, berubah menjadi ajang ‘curhat’ para mahasiswanya. Sejumlah mahasiswa menyatakan kekecewaannya lantaran harus selalu berhadapan dengan para pemilik otoritas di kampusnya yang kerap memaksakan pemikiran-pemikiran Islam liberal kepada para mahasiswa.

Sebelumnya, di tempat yang sama, Ulil Abshar Abdalla sedianya akan menjadi salah satu pembicara dalam sebuah seminar yang membahas seputar demokrasi di negeri-negeri Islam. Akan tetapi, pada akhirnya Ulil batal menyampaikan ceramah dalam seminar yang diadakan tanggal 20 Oktober 2013 itu. Melalui akun Twitter-nya, Ulil mengatakan bahwa ada ancaman dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai kedatangannya di kampus tersebut. Hingga saat ini, tidak ada kejelasan mengenai ancaman tersebut.

Dalam kajian yang digelar pada hari Senin, 4 November 2013 itu, seorang mahasiswa dari Fakultas Dakwah menceritakan betapa besarnya pembelaan salah seorang dosen kepada Ulil, berkaitan dengan isu pengusirannya dari UIN Suska. Mahasiswa yang tidak hendak disebut namanya itu mengatakan bahwa sang dosen menyebut insiden itu sebagai ‘pencabulan hak-hak akademis’. “Saya kemudian membantah dosen tersebut dengan membacakan sebuah ayat al-Qur’an. Tapi ternyata beliau malah mengatakan bahwa ayat yang saya bacakan itu berlaku di jaman Nabi saw saja, sedangkan untuk jaman sekarang kita harus menjunjung tinggi pluralisme,” ungkapnya.

“Kalau ayat al-Qur’an saja ditolak, bagaimana lagi kami akan berdebat dengan dosen?” demikian pertanyaan sang mahasiswa selanjutnya kepada Akmal Sjafril, penulis buku Islam Liberal 101 yang hadir sebagai narasumber.

Mahasiswa lain yang berasal dari Fakultas Pertanian mengatakan bahwa sebelum ia mendaftarkan diri untuk menjadi mahasiswa UIN sudah banyak yang memperingatkannya akan bahaya Islam liberal yang konon dikembangkan secara sistematis di kampus-kampus IAIN dan UIN. Ia pun baru melihat kenyataannya ketika benar-benar sudah duduk di kampus tersebut. “Tapi alhamdulillaah, saya memiliki lingkungan dan teman-teman yang baik di kampus, dan kami saling menjaga agar tidak turut terjangkit virus Islam liberal,” ujarnya.

 

DSCN0798

 

Fenomena pertentangan ideologis akibat pemaksaan paham Islam liberal di kampus-kampus UIN memang bukan hal yang benar-benar baru. Zaky, Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Chapter Yogyakarta yang juga berstatus sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, sempat berkali-kali mendebat para dosennya. Digelarnya sebuah seminar yang mengkritik paham Islam liberal di UIN Syarif Hidayatullah pada tanggal 10 Oktober 2013 silam menunjukkan bahwa ada arus pemikiran yang berlawanan yang kini tengah marak di kampus-kampus UIN.

“Ini membuktikan bahwa di UIN ada banyak ‘wajah’. Sayangnya, yang terlihat di mata masyarakat itu hanya satu wajah saja, seolah-olah di UIN itu semuanya menganut Islam liberal,” kata Shaleh Daulay, tokoh muda Muhammadiyah yang juga seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah, dalam seminar itu.

Meskipun sebagian dosen di UIN/IAIN bersikeras bahwa kampusnya menjunjung tinggi kebebasan intelektual, namun banyak yang berpendapat bahwa para mahasiswa memang secara sistematis diarahkan kepada paham Islam liberal. Hanya saja, dalam banyak kasus, misi liberalisasi ini tidak berhasil juga.

“Ketika diskusi di UIN Alauddin, Makassar, pada tahun 2012 dulu, saya bertukar pandangan dengan Prof. Qasim Mathar, salah satu guru besar di kampus tersebut. Menurut beliau, di kampusnya mahasiswa diberikan kebebasan, hendak memilih ‘paket Islam’ yang mana. Artinya, bukan Islam liberal saja. Akan tetapi pada sesi tanya-jawab, seorang mahasiswanya malah mengatakan bahwa menurutnya Islam liberal itulah yang ilmiah, sebab semua buku-buku referensi yang ia gunakan adalah karya para penulis berhaluan Islam liberal. Itulah bukti bahwa liberalisasi Islam memang dilakukan secara sistematis di kampusnya, dan banyak mahasiswa yang menjadi liberal karena diarahkan ke sana. Pada saat yang bersamaan, mereka dicegah untuk mengakses referensi-referensi yang mengkritisi Islam liberal,” kata Akmal.

Posisi mahasiswa di hadapan dosen tentu tidak setara. Oleh karena itu, jika dosen memaksakan paham Islam liberal, tentu mahasiswa tidak bisa menolaknya begitu saja. Lalu bagaimana dengan dosen yang bahkan sudah menolak dalil al-Qur’an? Terhadap pertanyaan ini, Akmal menjawab dengan lugas.

“Dalam salah satu hadits shahih yang cukup terkenal, Rasulullah bersabda, ‘Idzaa lam tastahi, fashna’ maa syi’ta’. Artinya, jika sudah tak lagi merasa malu, maka perbuatlah semaumu. Ini bukan pembenaran untuk berbuat semaunya, melainkan statement bahwa Rasulullah, sang da’i terbaik yang pernah ada, sudah angkat tangan menghadapi orang yang tak lagi punya malu. Kalau ada dosen yang mengajar di perguruan tinggi Islam namun menyatakan bahwa ayat ini dan itu tidak berlaku lagi di jaman sekarang dan sudah berganti dengan paham-paham baru seperti pluralisme, maka ia sudah kehilangan rasa malunya. Tidak perlu didebat, tapi kalau sudah demikian, maka semua ajarannya pun tak perlu diambil pusing lagi. Masukkan saja kata-katanya ke telinga kanan, keluarkan lewat telinga kiri. Belajarlah giat-giat supaya cepat lulus, selamatkan ‘aqidah, dan kalau berminat, jadilah dosen supaya bisa menggantikan dosen-dosen yang seperti itu,” jawab Akmal.

Bedah buku Islam Liberal 101 di Kampus UIN Suska ini diselenggarakan atas kerja sama dari #IndonesiaTanpaJIL Chapter Pekanbaru dan Forum Kajian Islam Intensif (FKII) Asy-Syams UIN Suska. Setelah dicetak enam kali dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, buku Islam Liberal 101 masih mengundang perhatian banyak kalangan. (ITJ/as)