GERAKAN UNEK-UNEK KREATIF GENERASI 2.0

“If you tolerate this, then  you children will be next”

Lirik milik salah satu orkes asing itu menutup video klip testimoni AL a.k.a. Ucay, vokalis grup Rocket Rockers di laman fesbuk #Indonesiatanpajil. Beberapa bulan belakangan ini, laman tersebut ramai dibicarakan anak muda di dunia maya. Bukan saja karena jumlah penggemar yang langsung terkumpul sebanyak 7000 akun dalam dua hari setelah pendiriannya, -medio februari 2012 dan kini telah tercatat 24 ribu penggemar- tapi juga fenomena sosial yang diciptakannya. Sekolompok anak muda melek teknologi-kerap dipanggil sebagai generasi 2.0- dengan latar belakang variatif yang tersebar di  beberapa kota besar Indonesia serentak bersuara dengan unek-unek khas anak muda terhadap gangguan yang mereka rasakan di jagat alam maya.

“Udah hati nurani banget yang bicara, unek-unek yang berkembang hingga ubun-ubun” ujar Ucay kepada kampus,  Jumat (20/4).   Bagi Ucay dukungan berupa video testimoni terhadap  laman tersebut merupakan bentuk pernyataan sikap yang sudah lama terpendam, jauh sebelum laman ini ada. “Di lapangan unek-uneknya sama, obrolan umum , masalah hati nurani, dan teman-teman udah sering bahas, dari tempat latihan (band), tongkrongan ke tongkrongan,” ungkapnya. Maksud ucapan ucay adalah tweets dari anggota kelompok yang sempat dikutinya di twitter, JIL.

Menurut Gatot Prasetyo, spokeperson #Indonesiatanpajil, saat dihubungi Kampus Jum’at(13/4), gerakan ini muncul secara spontan di media sosial. Hampir serupa Twittercal Mass, sebuah reaksi besar atas topik di Twitter. Bermula dari kegerahan sejumlah pelaku seni, anak muda dan aktivis ‘underground’ terhadap tweets aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), organisasi yang diinisiasi pendiriannya oleh The Asia Foundation (TAF) dan sejumlah lembaga strategis asal negeri Paman Sam sebelas tahun lalu. Bagian dari proyek-proyek teologi yang disinyalir Washington Post pada sebuah laporannya tahun 2010 sengaja dibiayai pemerintah AS pasca kejadian September 2001.    

 Tweets mereka dianggap menyebarkan pemikiran provokatif yang berbahaya bagi keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. “Saya sempat follow dan retweet, belakangan kok merasa janggal, dangkal dan keterlaluan, kerasa bermisi banget. Seperti mempertanyakan finalitas kenabian Muhammad sholaLLAAHU ‘alaihi wa sallam yang merupakan prinsip bagi muslim,” ungkap Ucay. Alih-alih menerima toleransi dan kebebasan berpendapat yang seakan-akan mereka perjuangkan, menurut Gatot, mereka yang tidak sependapat aktivis JIL akan dituding dan dicap dengan istilah-istilah diskriminatif.

Istilah yang bila ditelisik dalam kajian ilmu komunikasi cukup efektif untuk menjatuhkan karakter dan memberi citra buruk, seperti bigot, ekstremis, kolot, wahabi dan lain sebagainya. “Aktivis-aktivis tersebut kalau di tivi  belagak alim, baru di twitter keluar  komentar-komentar nyeleneh mereka,” kata Gatot.  Menariknya, istilah diskriminatif ini belakangan melahirkan “Komunitas Bigot Bigot Indonesia (KBBI)” sebagai bentuk resistensi.  Komunitas yang bergerak menyuarakan counter liberalism&atheism, melawan hegemoni pemahaman liberal di dunia maya semenjak dua tahun silam.

Pada saat yang sama, kegerahan ternyata tidak hanya dirasa KBBI,  hal sama dirasakan komunitas underground ‘One Finger Movement’ dan grup band Tengkorak. “Biarpun mereka mengaku masih begajulan , tapi mereka enggak terima prinsip-prinsip yang mereka yakini sejak kecil dilecehkan dan diinjak-injak,” ungkap Gatot. Puncaknya saat aktivis JIL menggelar aksi Indonesia tanpa FPI di   Jakarta, 14 februari lalu. Menurut Gatot begitu banyak ormas yang bermasalah dan melakukan tindakan kekerasan , “Lalu mengapa hanya FPI yang diserang?!”  Hasil telisik wirausahawan muda ini, target utama kelompok tersebut memang bukan FPI tapi prinsip-prinsip yang diusungnya. Prinsip yang kerap digugat dengan tweets ‘nyeleneh’ aktivis JIL.

Seolah menemukan momentum yang tepat, anak-anak muda generasi 2.0 lintas kelompok, tanpa dikomando membuat gerakan via media sosial. Dibentuklah hashtag #IndonesiaTanpaJIL di twitter yang disusul laman fesbuk dengan nama yang sama.  Kehadiran mereka di media sosial pun cukup menarik untuk dikaji. Tidak hanya merupakan simbol eksistensi anak muda sekarang ini, media sosial menjadi media gerakan utama setelah anak-anak muda ini merasa di’curangi’ oleh media massa umum.

“Ketika mereka menggelar demo bertajuk Indonesia Damai Tanpa FPI, peserta demonya tidak sampai 50 orang, tapi wartawannya juga sekitar 50 orang, dan polisi yang mengamankannya mungkin sampai 200 orang. Apa yang terjadi ketika FUI (Forum Umat Islam) menggelar aksi di tempat yang sama dengan tajuk Indonesia Damai Tanpa Liberal? aksi tersebut dihadiri setidaknya 3.000 orang, tapi sebagian media massa menyebutnya ‘Demo BBM’, dan ada pula yang mengatakan jumlah pendemo hanya 250 orang,” kata Akmal Sjafril, salah seorang aktivis counter liberalism yang menjadi salah satu pentolan gerakan ini kepada Kampus, Senin (28/4). Akmal menyoroti penyesatan dan pengalihan opini dari beberapa media massa mainstream yang tampak sengaja dilakukan.

Awareness mengoptimalkan media sosial memang muncul ketika media massa sulit mengakomodasi, dimedia-media sosial kita bisa lebih leluasa dan gampang menjelaskan dengan bantuan tulisan dan video,” tutur Ucay yang mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.

 

POLA GERAKAN 2.0

 “Di sini enggak ada istilah bergabung, tapi kesadaran. ’Pure’ tidak mengatasnamakan golongan, ormas, partai. Murni massa masyarakat Indonesia, dengan latar belakang yang sangat variatif dan unek-unek yang sama, gua sendiri bisa disebut mewakili anak mamih,”lanjut Ucay berderai tawa. Pernyataan Ucay seolah menekankan, kendati momentum pembentukan bertepatan dengan isu pembubaran FPI, jangan kira gerakan ini merupakan gerakan underbow dari FPI atau menyerupai pola gerakan yang dipelopori Habib Riziq tersebut.

Gerakan mereka mengusung ciri baru khas generasi 2.0 yang memanfaatkan secara optimal fasilitas-fasilitas media sosial. Di laman fesbuk, situs serta youtube bertajuk  #Indonesiatanpajil, kita bisa menyaksikan video-video klip testimoni dan wawancara berdurasi singkat yang dikemas dengan gaya video klip band asing. Wajar, karena menurut Gatot, video-video ini dikemas oleh sejumlahdirector professional muda Ibukota, pendukung gerakan ini. laman ini membuka pula karya-karya dukungan video simpatisan seperti yang diunggah sebuah guru taman kanak-kanak dari sebuah desa.

Selain video, laman fesbuk #Indonesiatanpajil membuka proyek ‘gotong royong bikin artwork’ difasilitasi komunitas kreatif berlabel ‘Syarekat Kreatifiyah Indonesia’. Respon yang didapat dari proyek ini selain banyak juga menciptakan tren baru dalam ‘komunikasi dakwah’, terlihat dari pesan-pesan ‘dakwah’ singkat namun padat melalui tampilan seni grafis.

Dalam rilis resmi laman dengan simbol satu jari (One Finger Movement) ini, artwork dipilih karena fungsinya bisa menjadi penyampai pesan yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Media artwork dianggap media yang pas  untuk menyalurkan emosi dengan cara yang kreatif. Sebagaimana diakui admin #Indonesiatanpajil, masih terdapat simpatisan gerakan yang belum bisa menyalurkan emosi dengan pemikiran, melainkan caci maki dan hujatan. Hal ini terlihat  dari perjalanan status laman tersebut.

“Kita harus mulai bisa memahami cara kerja mereka, pernahkah anda melihat/mendengar mereka mencaci fisik ulama yang lurus ? Yang mereka kritik selalu pemikiran/pendapat sang ulama tersebut. Sementara sebagian dari kita justru sebaliknya. Jujur, ini cukup ironis bagi kami. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran bukan dengan sekedar hujatan dan caci maki.

Semoga bisa dipahami bahwa ini bagian dari proses pembelajaran kita semua untuk pada akhirnya nanti bisa mematahkan serangan pemikiran mereka dengan pemikiran pula. Bukan dengan caci maki personal apalagi fisik,” begitu semangat yang dilansir para pemrakarsa gerakan di laman yang sama.

Oleh karenanya, dalam situasi yang dianggap Ucay sebagai ghawzul fikri atau perang pemikiran ini, sudah saatnya energi anak muda yang menentang pemahaman liberal disadarkan dengan kekuatan ilmu. “Amunisi yang dipersiapkan adalah ilmu, ilmu dilawan ilmu,” kata pemilik nama asli Noor Al Kautsar yang mengaku mulai rajin menghadiri kajian-kajian keilmuan mengenai aqidah  dancounter liberalism di sejumlah lembaga kawasan Jabodetabek.

Bagi Ucay, penampilannya dalam video testimoni yang dibalas dengan ‘bully’ para pengikut gerakan liberal di laman pribadi media sosial tidak membuatnya cemas atau khawatir kehilangan penggemar.

“Sudah saatnya berani bersikap dengan apa yang saya rasakan dan ini juga untuk mengajak yang lainnya agar lebih berani bersuara, agar jangan dibungkam suaranya, agar kita semua dapat terselamatkan,” ujar Ucay. “Pemikiran liberalisme sudah berkembang sejak lama, dan kini terang-terangan menafsirkan ayat semaunya. Kalau dibiarkan bagaimana dengan anak cucu kita,”ungkap Gatot di kesempatan yang berbeda.

 

DARI PUNKROCK HINGGA DOKTOR SUMMA CUMLAUDE

“Lu kan anak punk?ngapain ikut ngedukung kayak gini?!,”begitulah tanggapan sinis sejumlah orang di dunia entertainment kepada AL a.k.a.Ucay tidak lama setelah video testimoninya dirilis di laman fesbuk dan youtube #indonesiatanpajil. Reaksi ini tidak ditanggapi secara serius oleh Ucay. Baginya hidup merupakan sebuah proses. “Dari chaos sampai mencapai sesuatu yang harus dituju. Jangan lihat gimana gua dulu, sekarang gua menemukan sesuatu yang harus gua benarin. Selama benar, gua tidak takut akan kehilangan karir,” katanya.

Keberanian berekspresi pelaku dunia entertainment ditunjukkan pula aktor Fauzi Baadila “Gua enggak ngaku alim,  begajulan tapi enggak enggak bega’jil’an,”ujar Artis yang kerap dipanggil Bang Oji ini. Oji seolah menjadi Icon pencetus yang mendukung kehadiran gerakan spontan #indonesiatanpajil saat videonya berlatar jalanan metropolitan dirilis. Video berdurasi 32 detik  ini hanya diisi pesan singkat “Indonesia tanpa Jil’ seraya jari telunjuk diagungkan disusul tag “karena Indonesia lebih damai tanpa jil”.

Setelah Video Fauzi Baadila muncul, seorang trainer dan motivator bersuku bangsa Tianghoa, Felix Siauw secara khusus mentwit 74 poin yang  berhubungan dengan gerakan spontanitas ini. Dimulai  dengan pertanyaan “mengapa ramai hastag #IndonesiaTanpaJIL?”.  Tidak lama,  lebih dari seratus kali “kicauan” pemerhati sejarah Islam ini di retweet yang tentunya mendatangkan dukungan baru dari berbagai kalangan.  Efek media sosial mendatangkan pula dukungan dari sejumlah ilmuan Islam yang selama ini dikenal menentang liberalisme, seperti  Dr. Daud Rasyid,  lulusan summa cumlaude universitas kairo Mesir hingga personil band underground semacam tengkorak dan Purgatory.

“Saya pikir tidak harus ustadz untuk menyuarakan pendapatnya, “ begitu komentar salah seorang pendukung laman ini. Dengan cepat gerakan ini menyebar ke sejumlah kota besar di Indonesia  ditandai dengan kajian-kajian mengenai Liberalisme hingga pembagian Flyer yang menjelaskan gerakan ini  beserta hasil capture tweets liberal. Yang disebut terakhir dilakukan secara serentak dengan gaya  D.I.Y (Do It Yourself). Para pendukung gerakan hanya cukup mengunduh file flyer di sebuah link web, selanjutnya mereka berkoordinasi dengan supporter asal kota yang sama lalu bergerak sendiri .”Komunikasi kita via twitter, file flyernya kita print sendiri, fotokopi sendiri, dari uang saku kita masing-masing tanpa ada yang biayain,” kata Ucay.

Di Bandung, bersama beberapa orang pendukung gerakan, Ucay menyebarkan seribu Flyer di kawasan Gasibu Bandung pada hari Ahad(8/4). Kota-kota lain tidak mau ketinggalan, tercatat gerakan yang sama telah dilakukan sejumlah anak muda pada car free day (CFD) di kota Bekasi, Tangerang, Solo, Bogor, Makassar, serta beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di kota Gudeg , tidak hanya flyer yang disebar, poster-poster hitam putih ukuran A0 dengan simbol satu jari menyebar di sejumlah dinding kreatif kota.

“Pembagian flyer di CFD dimaksudkan untuk membangun sebanyak mungkin kesadaran masyarakat,” ujar Gatot Prasetyo, spokeperson #Indonesiatanpajil. bila kesadaran ini telah dibangun, selanjutnya kajian kelimuan menjadi sarana penguat dan amunisi dukungan.

Menurut Gatot, permintaan akan kajian ilmu yang menghadirkan ilmuan-ilmuan islam yang mumpuni semakin hari semakin banyak. “Kita sendiri kewalahan menerima permintaan teman-teman di Solo, Batam, Bogor dan beberapa kota lain,” tutur nya. Menurutnya, kendati dukungan masyarakat khususnya anak muda di jagat alam maya semakin kencang, mereka tidak ingin tergesa-gesa. “ Perang Pemikiran itu perjalanan panjang mas, kita harus jaga stamina gerakan jangan terlalu diporsir,” ujarnya. Pihaknya kini mengaku akan mengorganisir gerakan di beberapa kota agar lebih rapih dan terkoordinasi.

____________________________________

Terima kasih untuk koran Pikiran Rakyat yang sudah mengangkat gerakan kami ini. Sukses selalu !

 

 

 

May 17 at 8:10am · Report