#IndonesiaTanpaJIL Gelar Kajian #ChargeOurAqidah

Sabtu 20 Juli 2013 menjadi hari yang bermanfaat bagi troops #IndonesiaTanpaJIL, setidaknya bagi para peserta yang mengikuti acara One Day in Ramadhan yang bertemakan #ChargeOurAqidah. Acara yang berlangsung di Rumah Damai Indonesia, Pejaten Timur Jakarta Selatan tersebut diikuti tidak kurang dari 40-an peserta.

Acara yang digelar seharian tersebut dimulai pukul 09.00wib menggelar tiga kajian secara berurutan yang bertujuan melakukan suntikan ilmu keislaman agar aqidah Islam para peserta yang hadir dapat tetap terjaga. Selain kajian, juga dilangsungkan santunan kepada anak-anak yatim di berdomisili di sekitar lokasi acara dan buka puasa bersama anak-anak yatim.

Kajian pertama yang mengulas “Pengaruh Asing Terhadap Islam Liberal” dibawakan dengan apik oleh Ustad Artawijaya (penulis buku Indonesia Tanpa Liberal).

“Islam tidak liberal, dan liberal bukan Islam. Islam itu mulia, tidak perlu embel-embel di belakangnya”,ujar Ustad Artawijaya yang diamini oleh seluruh peserta.

“AS dan negara-negara barat telah nyata melakukan stigmatisasi terhadap Islam. Diciptakan istilah-istilah seperti islam fundamentalis, islam ekstrim dan lain-lain, yang semata-mata bertujuan menciptakan phobia terhadap Islam”,lanjut Ustad Artawijaya.

Setelah istirahat untuk menunaikan Zhuhur dan tilawah Qur’an bersama, acara dilanjutkan dengan Kajian kedua yang memaparkan “Jejak Freemasonry dan Zionis di Indonesia”. Paparan disampaikan oleh Ustad Herry Nurdi dengan pembawaannya yang sederhana namun banyak mengulas bahaya dibalik symbol-simbol Freemason di Indonesia.

“Umat Islam dibuai oleh mereka. Mereka membuat umat Islam tidak sadar bila nanti tanda-tanda itu muncul maka kita sudah tidak kaget, kita sudah terbiasa”,ujar Ustad Herry Nurdi.

“Freemason dan Zionis memiliki dana yang sangat-sangat besar. Isu LGBT menjadi salah satu isu yang mereka bawa saat ini ke Indonesia,”sambung Ustad Herry.

“Kebaikan yang kita lakukan berjalan sesuai deret ukur sementara kerusakan, keburukan yang mereka lakukan berjalan seperti Quantum. Butuh tenaga ekstra dalam pergerakan ini,”tegas Ustad Herry Nurdi kepada para peserta.

Tidak terasa hari sudah semakin sore, setelah menunaikan ibadah sholat Ashar, para peserta tetap menyempatkan untuk tilawah Qur’an.

Sesi terakhir adalah sesi yang paling santai namun tetap membawa hikmah yakni sesi sharing dari Bang Ombat Nasution, vokalis sebuah band metal muslim bernama Tengkorak. Dalam sharingnya, Bang Ombat memaparkan pengalaman hijrahnya beliau di dunia musik underground.

“Gue baru sadar kalo selama ini yang gue pake adalah salam setan. Sejak itu, gue ganti dengan salam tauhid, salam satu jari!,”tukas Bang Ombat.

“Masa depan generasi muda jadi salah satu tanggung jawab para musisi, makanya gue ngga mau lagi sembarangan bawain lagu”, tambah Bang Ombat.

“Lu harus bisa hijrah, lu harus jemput hidayah Allah, karena hanya dengan itu lu bisa nolong agama lu, bisa nolong agama Islam”,tukas Bang Ombat.

Atas dasar itulah Bang Ombat Nasution bersama rekan-rekannya membentuk satu pergerakan yang berlabel ‘One Finger Movement’ sebuah pergerakan yang berisikan band-band underground dan metal yang memutuskan untuk berdakwah lewat musik.

Tak terasa sudah tiba waktu berbuka puasa, panitia memberikan hidangan berbuka puasa kepada peserta acara juga buat anak-anak yatim yang sudah hadir. Dilanjut dengan santunan kepada anak-anak yatim. Para peserta, panitia dan anak-anak yatim bersama menunaikan ibadah sholat maghrib, dan setelahnya mereka berbaur bersama sambil menikmati hidangan makan malam.

Satu harapan dari One Day in Ramadhan bersama #IndonesiaTanpaJIL ini adalah umat Islam khususnya generasi muda dapat selalu memelihara dan meningkatkan kadar keimanannya dan aqidahnya agar tetap dalam Islam. #ChargeOurAqidah #UpgradeOurIman. Insya Allah, aamiin. (lucky subiakto)

IMG_5616