Majelis Pemikiran dan Peradaban Islam

Seiring dengan tantangan zaman di abad modern ini, pemikiran liberal telah menggerogoti umat Islam dari internal diri seorang muslim. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam termasuk melakukan perlawanan bagi pemikiran liberal tersebut karena telah menjadi penyakit tersendiri bagi umat Islam saat ini.

IndonesiaTanpaJIL chapter Purwokerto bekerjasama dengan Takmir Masjid Fatimatuzzahra Kelurahan Grendeng Purwokerto mengadakan Majelis Pemikiran dan Peradaban Islam (MPPI) sebagai bentuk penyadaran akan bahayanya virus-virus pemikiran yang dibawa oleh Jaringan Islam Liberal (JIL).

Dalam agenda MPPI yang pertama ini IndonesiaTanpaJIL chapter Purwokerto mengangkat tema “Pahami dan Lawan Segala Bentuk Liberalisme di Indonesia” dengan pembicara Ustadz Akmal Syafril, S.T., M.PdI dan Ustadz Ahmad Thoha Husein al-Hafidz.

Pembicara pertama ustadz Akmal Syafril memaparkan tentang bahaya JIL yang beropini untuk mereduksi kemuliaan Islam. Pemaparan diawali dengan sebuah kalimat bahwa “Kata siapa JIL itu pinter? Itu semua hanya mitos. Buktinya wacana yang mereka wacanakan selalu berubah-ubah, bahkan terkadang seakan menyesuaikan pesanan”.

Misal seperti yang dikemukakan oleh Guntur Romli mengatakan “Kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimentasi kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang” ustadz Akmal Syafril kemudian menjelaskan bahwa “aktivis JIL yang satu ini juga pernah mengatakan bahwa Kenabian Muhammad SAW diperoleh bukan karena pewahyuan dari Allah SWT melainkan dari Khadijah RA yang mengajarkan Muhammad SAW untuk kemudian membaca, beriman dan seterusnya. Pemikiran aktivis JIL seperti ini seharusnya yang kita lawan dan kita luruskan supaya tidak berbelok kemana-mana.” begitu tutur ustadz Akmal Syafril.

Ustadz Akmal Syafril juga pernah menghadiri sebuah diskusi dan mengajukan pertanyaan kepada Prof. Qasim Mathar “kalau JIL itu mengusung kebebasan, dimanakah batas-batas kebebasan itu? bukankah bebas itu harus ada batasnya?” kemudian aktivis JIL tersebut pun diam karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Diakhir pemaparan ustadz Akmal Syafril menegaskan bahwa kemunculan pemikiran JIL di Indonesia ini sebenarnya bermula pada kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan tradisi ilmiah ke-Islam-an. Harusnya kita sebagai umat Islam bangga akan kejayaan ilmu pengetahuan Islam yang pernah ada dan melaksanakan tradisi ilmiah pada zaman sekarang layaknya para ‘ulama dan umat Islam terdahulu.

Pembicara kedua yaitu ustadz Ahmad Thoha Husein al-Hafidz menerangkan tentang Bahaya Pemikiran Islam Liberal yang merupakan salah satu bentuk Ghazwul Fikr (Perang Pemikiran). Latar belakang sejarah Ghazwul Fikri sebagai gerakan sistematis yang dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam terkait erat dengan dendam Barat terhadap kekalahan mereka dalam Perang Salib (1095-1272 M). Tujuan Ghazwul Fikr adalah menjauhkan umat Islam dari ke-Islam-annya, menjauhkan umat Islam dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kemudian ustadz Ahmad Thoha menjelaskan kondisi umat Islam saat ini yang lebih cenderung kepada sesuatu yg keduniawian dengan mengedepankan materi dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita jumpai umat Islam lebih sering meniru gaya hidup kebarat-baratan yang sebenarnya adalah peradaban yang merusak fitrah manusia. Selanjutnya ustadz Ahmad Thoha juga menjelaskan tentang fenomena-fenomena pemikiran Islam Liberal yang sudah sering bermunculan dalam satu decade terakhir ini melalui forum-forum ilmiah, buku-buku akademis dan lain sebagainya.

Diakhir penyampaian, ustadz Ahmad Thoha menyampaikan bahwa langkah penanggulangan dari wabah pemikiran Islam Liberal adalah dengan menghidupkan kembali tradisi ke-Islam-an di segala bidang kehidupan, mulai dari pembinaan diri seperti liqo, halaqah, mengikuti majelis ilmu, kembali menghidupkan masjid dan lain sebagainya.

Diakhir sesi kajian ini, ada seorang mahasiswa dari STAIN Purwokerto menanyakan perihal Bagaimana cara menanggulangi pemikiran Islam Liberal ini didalam perkuliahan yang diisi oleh dosen yang mempunyai pemikiran liberal? Kemudian ustadz Ahmad Thoha menjawab yang Pertama, beliau minta mahasiswa tersebut untuk istikharah, minta petunjuk pd Allah. Kedua, pertimbangkan segala kemungkinan.

Apakah bisa pertahankan aqidah dalam kondisi kuliah seperti itu? Kalau bisa tetap pertahankan aqidah, bertahanlah. Tapi kalau dipaksa jalani ajaran kekufuran, minggatlah. “Islam adalah hal yg paling berharga, lebih daripada yang lain!”

Sumber: SuaraRepublika